07 November 2021

Pelesir Pangandaran, Wisata Alam nan Menawan dan Ragam Situs Sejarahnya

Pantai Barat Pangandaran saat sunset
Pantai Barat Pangandaran saat sunset. (Afkar Aristo)


Awal Februari 2021, saya datang ke Pangandaran bersama Iqbal. Kami menggunakan bus dari Tangerang dengan harga sekitar Rp200.000 dengan waktu tempuh dari petang hingga sepertiga malam. Tujuan di sana juga untuk mengunjung teman semasa SMA kami, Aditia Santosa, pembuat film yang juga turut pernah saya bantu sejak SMA hingga beberapa waktu lalu.

Rencana perjalanan ini mendadak. Iqbal ingin berlibur sekaligus menuntaskan pekerjaannya di Pangandaran bersama production house milik Adit, Lampu Creative. Sedang tujuan saya memang murni untuk jalan-jalan, tapi juga mencari sesuatu yang mungkin layak untuk diberitakan.

Subuh buta itu, Adit menjemput kami di Terminal Pangandaran dengan mobil. Setibanya di rumahnya, tak disangka lebar juga kediamannya, dan memiliki studio film sendiri untuk production house-nya walau cuma menggunakan gudang—yah, namanya juga memulai usaha terutama di bidang kreatif, tentu butuh dari kecil dulu, kan?

Sayangya, pagi itu Adit tidak bisa kemana-mana karena ada urusan kampus yang harus ditunaikan, dan meminjamkan kami motor untuk jalan-jalan.

Pantai dan atmosfer Pangandaran

Apa yang dipikirkan ketika kamu tiba di Pangandaran? Tentu pantai, bukan? Hari pertama itu kami gunakan untuk berjalan-jalan ke Pantai Sebrotan. Berdua saja di siang yang cerah berawan. Cukup besar ombak di awal tahun itu. Ombak berdebur tinggi, meski cuaca terlihat cerah. Sangat mudah pula saya memprediksi bagaimana pola cuaca di Pangandaran di musim hujan bulan Februari yang nantinya akan saya ceritakan lebih lanjut seiring perjalanan.

Di Pantai Sebrotan, Iqbal berujar, biasanya bila dirinya datang ke Pangandaran untuk urusan bersama teman-teman Lampu Creative, mereka akan berkemah di sini. Suasanya yang syahdu dan jarang orang yang berkunjung ke sini, kecuali para pemancing ikan.

Deru ombak menerjang tebing karang di Pantai Sebrotan
Deru ombak menerjang tebing karang di Pantai Sebrotan. (Iqbal Syis)



Tak jauh dari sana, kami ke muara Pantai Madasari. Mungkin bagi kalian yang mengikuti media sosial Susi Pudjiastuti yang suka paddling tentu akan kenal dengan pemandangan ini. Ombaknya yang ramah biasanya digunakan oleh pengunjung dalam maupun luar negeri.

Tapi karena berhubung saat senja langit yang selalu mendung di bagian utara Pangandaran. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali sesegera mungkin. 

Kami kembali menggunakan jalur berangkat yang juga menjadi objek wisata lainnya di dekat pantai dan Green Canyon—tidak, kami tidak mengunjungi Green Canyon karena harganya yang mahal untuk jalan-jalan murah—yakni sebuah jembatan gantung. Sejatinya, tidak ada yang menarik di tempat itu kecuali jembatan kayu yang tradisional, tetapi menjadi objek wisata bagi banyak kalangan. Saya dan Iqbal memutuskan hanya melintasi saja.

Pukul empat sore, kami telah tiba kembali di rumahnya Adit. Dia sudah selesai—setidaknya untuk hari ini—untuk urusannya. Di sana juga ada Yandi yang biasa bertugas menjadi editor video Lampu Creative, dan Rizki yang biasa membantu produksi mereka.

Bermain voli pantai di Pantai Barat Pangandaran hingga hari gelap.
Bermain voli pantai di Pantai Barat Pangandaran hingga hari gelap. (Afkar Aristo)


Untuk mencari hiburan, kami langsung menghabiskan sore kami di Pantai Pangandaran Barat sambil bermain voli. Jaraknya tidak jauh, hanya satu hingga dua kilometer dari kediaman Adit. Memang, saya tidak pandai bermain voli, tapi tak salah kan untuk bermain?

Ketika hari hampir gelap, kami habiskan air kelapa yang kami pesan di Aa-Aa jualan yang ada di tepi lapangan.

Suatu malam di kafe Overtime

"Konsep lu emang gokil, Syis," ujar Adit mengomentari suatu episode mini-series yang digarap Iqbal. Hasilnya masih kasar yang masih disunting oleh Yandi. Malam itu kami di kafe Overtime tempat biasa mereka menongkrong.

Saya mencoba melihat cuplikan video yang belum selesai itu. Suasana dan aktivitas yang penuh sensasi di sekitar pesisir-pesisir Pangandaran oleh aktor dan aktris yang mencoba olahraga ekstrem. Video itu belum selesai, potongan-potongan gambarnya juga menggunakan tempo lagu dari The Panturas dan .Feast yang berjudul Gelora.




"Coba dah kalian beli copyright lagu ini buat series kalian," tanggap saya melihat kesusaian lagu dengan video mereka.

"Mau, sih, bang," balas Adit. "Tapi ncan aya duitna," lanjutnya terkekeh. Lagu ini nantinya akan diganti dengan composing buatan mereka. Lagu Gelora hanya menjadi patokan tempo saja.

"Eh kalian di sini?" tiba-tiba seorang perempuan berambut pendek muncul di antara gelak tawa kami berempat. Dia bersama temannya, perempuan dengan rambut pirang, belesteran Belanda-Indonesia. Mereka akhirnya duduk bersama kami malam itu dan berbincang. Namanya adalah Levina, dan yang satu lagi adalah Yolita.

Perbincangan kami berenam berujung pada Iqbal yang menyampaikan rencana saya yang ingin ke Cagar Alam Pangandaran. Saya ingin sekali ke sana untuk melihat hutan di Pananjungan Pangandaran yang tidak jauh dari tempatnya Adit.

Sayang, rencana besok tidak bisa karena terhalang kegiatan Adit untuk menyelesaikan tugasnya. Ternyata, tempat itu sangat dikenal oleh Levina yang menghabiskan waktu kecilnya di sana untuk jalan-jalan. Saya dan Levina akhirnya bertukaran kontak untuk janji besok. Levina juga mengajak Yolita yang juga penasaran untuk mengetahui lebih lanjut soal Pangandaran. Padahal, ini kan tempat dia tinggal.

Cagar Alam Pangandaran

Pukul enam pagi, mata saya masih sayup-sayup mendengar dering ponsel yang tidak henti-hentinya bergaung. Saya tidak enak dengan Adit dan Iqbal yang terganggu oleh suara ini, maka saya memutuskan mencoba untuk mematikannya. Tapi ternyata itu bukan alarm yang biasa berbunyi, tapi ternyata telepon dari Levina untuk menanyakan kesiapan kami.

Saya segera membangunkan Iqbal, mandi, dan bersiap-siap. Ternyata Adit tidak ada di kasur, dia sudah di studio untuk melanjutkan urusannya. Sungguh luar biasa gigihnya anak satu ini, gumam saya. Jam delapan, Levina dan Yolita tiba di pekarangan rumah Adit dengan mobilnya Yolita. Saya dan Iqbal sudah siap sambil merokok di studio.

Setibanya di Cagar Alam Pangandaran, kami berempat melihat banyak monyet di halaman depan. Kami masuk dengan harga masuk yang semetinya Rp16.000 per orang menjadi lebih murah. Saya lupa berapa, pastinya, tapi karena Levina dan Yolita orang lokal, dan saya membawa identitas pers jadi lebih murah.

Di sana, kami melihat ada peninggalan arkeologis dari masa Kerajaan Pananjungan yang merupakan bagian dari Kerajaan Galuh. Masih sedikit yang terungkap karena masih terpendam dalam gundukan tanah yang harus diekskavasi lebih lanjut oleh para arkeolog.

Levina menerangkan, kalau kerajaan ini berumur pendek akibat serangan perompak dari Nusakambangan. Kisahnya juga terkenal dengan Ratu Rengganis yang jadi permaisuri raja dan setia melindungi kerajaan hingga akhirnya tenggelam di Gua Cirengganis yang masih di dalam komplek cagar alam. Kisah singkat ini pernah saya paparkan dalam artikel National Geographic Indonesia dengan beberapa sumber sejarah yang bisa dipercaya untuk jadi acuan.

Salah satu pintu Goa Jepang di Cagar Alam Pangandaran. Meski kecil dan gelap, gua buatan ini memiliki jejak sejarah kemerdekaan Indonesia yang kelam. (Iqbal Syis).
Salah satu pintu Goa Jepang di Cagar Alam Pangandaran. Meski kecil dan gelap, gua buatan ini memiliki jejak sejarah kemerdekaan Indonesia yang kelam. (Iqbal Syis).


Selanjutnya ada pula Goa Jepang yang tentu memiliki cerita Perang Dunia II. Gua buatan ini berukuran kecil di sela-sela bukit kecil di tepi barat cagar alam. Berdasarkan guide kami dari BPCB setempat, tempat ini selain menjadi tempat pertahanan tentara Jepang, juga menjadi tempat tahanan orang Indonesia dan Belanda yang membelot. Tak jelas tentang fakta sejarah lebih lanjutnya, tetapi tempat ini butuh perawatan lebih.

Ada juga ragam pentilasan yang disakralkan di Cagar Alam Pangandaran. Situs yang kami kunjungi Gua Parat, Gua Panggung, dan Gua Cirengganis. Gua Parat dan Gua Panggung dikenal dalam sejarah asal mula penyebaran Islam di Pangandaran, sementara Gua Cirengganis dikenal sebagai tempat terakhirnya Dewi Rengganis dan pertemuannya dengan raja pertama Pananjung.

Gua Panggung di Cagar Alam Pangandaran, merupakan salah satu situs yang dikeramati penduduk setempat (Afkar Aristo).
Gua Panggung di Cagar Alam Pangandaran, merupakan salah satu situs yang dikeramati penduduk setempat (Afkar Aristo).


Gua Cirengganis di Cagar Alam Pananjung yang dipercaya airnya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh.
Gua Cirengganis di Cagar Alam Pangandaran yang dipercaya airnya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh. (Iqbal Syis)



Saya sempat bertemu dengan seorang Sunda Wiwitan di Gua Cirengganis. Dia menyediakan air dari gua tersebut untuk dikonsumsi yang dipercaya bisa melancarkan jodoh dan awet muda. Jika tertarik dengan pelajaran budaya, saya diajaknya untuk mencoba kesempatan lain untuk menonton tari ronggeng Pangandaran di balai. Sayang, untuk sementara kegiatan itu tidak ada karena pagebluk.

Kiri-kanan: Saya, Yolita, Levina, dan Iqbal. Berswafoto di depan Cagar Alam Pangandaran
(Kiri-kanan) Saya, Yolita, Levina, dan Iqbal, berswafoto di depan Cagar Alam Pangandaran.


Nyiur dan bersemedi di air terjun tersembunyi

Dimas, rekan Adit mengajak kami ke sebuah air terjun yang belum begitu terekspos, yaitu Curug Jambe. Tempat ini disarankan Dimas dan Adit karena mereka pernah membuat film di sini. Saya dan Iqbal mengunjunginya di suatu pagi bersama Dimas, dan lagi-lagi Adit belum bisa diajak.

Selepas hujan reda di kaki perbukitan tempat Dimas tinggal, kami bertiga berjalan ke sana. Menuju Curug Jambe bukanlah hal yang mudah, kami harus meninggalkan motor di sebuah kebun yang aman. Kemudian melewati sungai dan hutan yang membuat kaki saya keram pada malamnya, maklum jarang olahraga.

Medan yang terjal membuat kami harus berjalan kaki dan nyeker. (Afkar Aristo)


Perjalanan rasanya memang seperti Jejak Petualang di Trans7. Andai saja saya lapar saat itu, mungkin saya akan mulai mencari-cari hewan kecil yang bisa dimakan seperti program TV tersebut.
Tetapi ketika tiba, suasananya begitu tentram dengan melodi air terjun yang memanjakan telinga.

Tanpa fa-fi-fu, kami bertiga berenang ke telaganya yang jernih, atau terjun dari bebatuan. Tidak tahu berapa lama waktu dihabiskan di sana, rasanya malas untuk segera pergi—terlebih mengingat halang rintang untuk menuju tempat ini.

Iya, itu saya sedang bersemedi, menghanyutkan masalah dalam pikiran bersama air yang menerpa saya. Cailah! (Iqbal Syis).


"Sayang ini belum ditengok pemerintah sini," kata Dimas. "Tapi kan juga lumayan sepi-sepi gini."
Secara bergiliran, kami bersemedi di air yang jatuh dari ketinggian. Terapi pikiran dari beban-beban kerjaan rasanya hilang seiring dengan terpaan air yang jatuh. Saya menikmatinya, walau sebenarnya agak seram juga.

***

Perjalanan balik memang bikin capek dan membuat keringat muncul kembali. Demi membersihkan badan yang sudah berkeringat lagi, setelah kembali ke tempat motor, kami bertiga meluncur ke tempat berikutnya: Sungai Pingit. 

Dimas sedang terjun salto dari jembatan untuk kedua kalinya, sementara saya berusaha memegang tepi sungai setelah terjung dengan rasa panik. (Iqbal Syis)
Dimas sedang terjun salto dari jembatan untuk kedua kalinya, sementara saya berusaha memegang tepi sungai setelah terjung dengan rasa panik. (Iqbal Syis)



Sebenarnya ini destinasi yang cukup umum di Pangandaran, tetapi karena kami tiba bukan di hari libur, cukup sepi saat dikunjungi. Kami menikmati gorengan dan mandi di sungai, bahkan terjun dari jembatan bambu. Awal-awal seram, tapi setelah loncat jadi bikin ketagihan 😅.

Malam terakhir


Tidak menghitung berapa hari saya dan Iqbal di Pangandaran. Yang jelas, malam terakhir ini kami berkemah di Pantai Batu Karas sekaligus merayakan tayangnya episode pertama series What's Next yang disunting mati-matian oleh Yandi.

Kemah pantai ini akhirnya bisa diikuti oleh Adit, bersama teman-teman Lampu Creative lainnya seperti Yandi,  Dicky yang bisa menggantikan lagu Gelora sebagai soundtrack episode yang digarap Iqbal, dan Gilang yang menggarap episode pertama.

Malam yang panjang itu ada banyak diskusi tentang dunia perfilman yang menarik bagi saya untuk belajar, mulai dari tata kamera, mengatur musik, rencana pembuatan event yang hendak digarap tahunan oleh mereka, hingga mimpi PH ini bisa sebesar Visinema.



Ditemani secangkir kopi yang dibuat oleh Gilang (dia memang orang paling syahdu di gerombolan ini), dan ikan bakar yang dibuat bersama-sama. Malam ini tidak ada bintang karena awan mendung utara tiba di pesisir yang membuat terkadang gerimis. Suara yang menemani adalah lagu-lagu dari The Panturas atau The Mentawais yang cocok dengan suara ombak yang mengiring, terkadang juga kami bermain gitar.

Berkemah di sini gratis, tidak ada pungutan biaya karena Pangandaran memang sedang sepi-sepinya. Kesepian ini lambat laun membuat saya mulai mengenal mereka, dan sebaliknya.

Selama berkumpul saya memang lebih banyak diam, karena memang belum terlalu kenal dan pembahasan cukup internal bagi mereka. Lambat laun, saya mulai cair seperti saus tiram yang dituang terlalu banyak ketika makan malam secara liwetan. Sukses terus rekan-rekan Lampu Creative!

05 November 2021

Hindari Tas Hilang Saat Liburan, Bikin Bundling Traveling di Instaprint

Bundling travel dari Instaprint, berisi bantal, tali masker, dan bag tag.


Kalau lagi jalan-jalan bawa koper, sering banget kejadian tertukar kalau lagi baggage claim di bandara. 

Sekilas, koper kita dengan milik orang lain memiliki bentuk dan warna yang sama, yang sebenarnya punya perbedaan kecil yang jarang diperhatikan: tanda nama kita dalam label yang sudah disediakan pihak bandara setelah check-in.

Beruntung jika kita menyadari itu bukan milik kita dan langsung dikembalikan ke meja putar yang mirip di restoran sushi itu. Tapi jika malah terbawa? Alangkah menyebalkannya untuk kembali ke bandara yang mungkin jaraknya jauh dari rumah atau penginapan.

Maka dari itu, saya membuat bag tag sendiri dengan tanda yang bisa dikenali. Saya membuatnya di Instaprint dengan desain yang bisa ditentukan sendiri.

Bahannya terbuat dari akrilik, sehingga bisa terlihat cling berkilau bagai laut yang disinari matahari senja kalau lagi menunggu koper atau tas di baggage claim bandara. Selain itu karena akriliknya juga cukup kuat, jadi aman tidak gampang pecah ketika dimasukan ke bagasi pesawat.

Ketika memeriksa apa saja sih yang Instaprint bisa, ternyata mereka juga bisa membuat tali masker juga, loh! Kebetulan banget dengan kebutuhan saya yang suka pergi-pergian dengan masker kemana-mana karena parno paparan virus corona.

Kamu pasti tahu kan, betapa capeknya lepas dan pasang masker berkali-kali? Sedangkan saya sering kemana-mana untuk kerjaan atau sekadar plesiran.

Nah, tali masker ini bisa bantu kamu nentengin masker ketika melakukan aktivitas tanpanya, seperti makan, minum, atau hiking.

Tapi karena harga tali masker murah banget di Instaprint, rasanya nanggung. Saya memutuskan untuk sekaligus memesan lanyard yang juga murah. Biar sepaket!

Kebetulan juga lanyard yang biasa saya pakai untuk ID Pers atau kartu mahasiswa sudah berabad-abad lamanya belum diganti. Kamu bisa memesannya tali masker dan lanyard di sini.

Daripada pegal karena lepas masker, mending ditenteng pakai tali masker yang bisa dipesan di Instaprint



Bundling

“Mas, ini beneran pesan sebanyak ini? Tumben,” tanya admin Instaprint ketika mengecek kembali daftar desain dan apa saja yang hendak saya beli, lewat Whatsapp.

“Iya, Kak. Kebetulan nanggung kalau belinya satu-satu,” jawab saya.

“Wah, kalau nanggung dijadiin bundling aja, Mas. Isinya tiga barang.”

Wow, bundling? Saya baru tahu orderan seperti itu ada di Instaprint. Sebab, di Instagram dan situs mereka belum mengenalkan itu, dan ternyata hanya bisa dipesan ketika menghubungi via WhatsApp.

Jadi bundling ini lebih hemat daripada beli satu per satu, dengan isi tiga benda yang kita inginkan.

Tetapi apakah saya hanya menginginkan bag tag, tali masker, dan lanyard? Wohoo, tentu tidak. Saya memutuskan agar lanyard dibayar terpisah, dan sebagai gantinya saya memesan bantal kecil ukuran 40x40 sentimeter untuk bisa saya bawa jalan-jalan.

Akhirnya saya memesan bundling itu kepada admin WhatsApp Instaprint. Hasil jadinya juga bagus seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya. Untuk bantal, saya desain dengan peta dunia agar ketika tertidur bisa bermimpi keliling dunia (cailah!).

Barangnya juga sampai dengan cepat, setidaknya butuh dua atau tiga hari untuk menunggu. Khusus cetak stiker, artcarton, atau semua yang berbahan kertas lainnya, hasilnya bisa ditunggu di tempat.

Selain kamu harus memesan langsung, bisa juga lewat di www.instaprint.id, dan Instagram (@in8taprint). Atau, bisa juga lewat Shopee dan Tokopedia dengan nama Instaprint Online, buat kamu yang mau berencana menggunakan jasa Instaprint tapi dimasukin ke shopping cart dulu 😉.

Oh, ya, coba juga baca testimoni saya memesan outfit dengan desain sendiri di postingan lainnya, ya!

 

03 November 2021

Quote Traveling, Biar Makin Pede Jalan-jalan

"Who live sees, but who travel sees more" -Ibn Battuta 
Kalau kamu bertanya-tanya bagaimana bisa memotivasi diri supaya semangat melakukan hobi traveling, kamu harus coba baca-baca quote ini.

Di antaranya adalah yang saya buat dan ada pula yang mengutip dari orang-orang yang menginspirasi saya untuk melakukan perjalanan. Gunanya membaca quotes-quotes seperti ini tidak lain ya supaya kita termotivasi dan merasa ada pegangan teguh atau pendirian dalam melakukan traveling.

Yang penting



World is like a book


Berlabuh di hatimu



We've been camping together


Die on an adventure


Winnie The Pooh


Cover the earth


Looks good


Study with no room


No one knows your name




10 Oktober 2021

Budak Nestapa di Jalur Rempah: Refleksi Laporan di National Geographic Indonesia

Untung Surapati menjadi budak dalam lukisan yang digambar Jacob Coeman tahun 1665.
Dalam lukisan yang dibuat Jacob Coeman tahun 1665 ini, laki-laki di latar yang menjadi budak adalah Untung Surapati. Perbudakan marak terjadi pada masa penjajahan Belanda di Nusantara. (Rijksmuseum)


Saban 23 Agustus, dunia memperingati Hari Penghapusan Budak. Peringatan itu membuat saya jadi teringat laporan eksekutif editor Vice Zing Tsjeng dalam Empires of Dirt di YouTube yang penuh penggambaran pada gedung seperti Universitas, benda seperti patung yang dikenang, usaha, dan jasa yang hari ini dipakai di Inggris Raya, memiliki masa kelam pada perbudakan lewat rute Trans-Atlantik.

Rute itu menggambarkan bagaimana budak, komoditas pertanian, dan politik, memiliki garis sejajar di Samudera Atlantik dari benua Eropa, Afrika, dan Amerika. Budak Afrika itu didapatkan dari penaklukan atau perdagangan manusia yang dilakukan kerajaan-kerajaan setempat.

Kemudian saya menaruh curiga, jangan-jangan apa yang kita banggakan di Nusantara juga memiliki jejak keringat hingga darah perbudakan di masa lalu. Apa yang kita banggakan pada dunia di masa lalu? Tentu: rempah-rempah.Perdagangan rempah itu membuat orang Eropa berkelana melayar samudra luas semenjak jalur sutera dikuasai Kesultanan Ottoman. Penjelajahan ini mengakibatkan penaklukan dan perdagangan yang tidak kalah sadisnya dengan yang terjadi di Afrika dan Amerika.

Ide ini disambut baik oleh Managing Editor di majalah National Geographic Indonesia Mahandis Yoanata Thamrin. Awalnya, ide ini hanya untuk artikel website, tetapi beliau menyarakan untuk diterbitkan di majalah karena tema rempah sedang dibahas di tahun ini.

Untuk membuktikannya, saya mulai cari laporan penelitian di Afrika Selatan dan Belanda terkait isu ini. Tiga penelitian sejarah jurnal Slavery and Abolition, tesis UGM berjudul Budak orang buangan dan perkenier di perkebunan pala :: Perbudakan di Kepulauan Banda tahun 1770-1860, dan buku gratis berjudul The Role of “Brokers” in the Dutch Slave Trade in Madagascar in the Eighteenth Century. Saya juga sempat melakukan wawancara dengan penulis tesis UGM tersebut dan Lilie Suratminto, pegiat arsip data VOC.

Bumbu eksotis yang kita banggakan kejayaannya di masa lalu ternyata memiliki sisi kelam dalam bisnis kolonialisme Belanda di Nusantara dan kerajaan-kerajaan setempat yang mencari untung. Fenomena ini bahkan terjadi di sepanjang jalur rempah, dari Nusantara, India, Madagaskar, Afrika Selatan, Ghana, hingga ke Belanda.

Melalui artikel di majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2021, saya mengungkap beberapa fakta menarik tentang perdagangan rempah dan budak. Saya juga menyertakan peta jalur rempah yang berhubungan dengan perbudakan mancanegara di masa kolonialisme. Ini adalah artikel kedua saya di majalah, setelah saya magang pada awal tahun 2020 lalu yang membahas sejarah kehebatan perempuan Nusantara.

Jadi, bisakah Jalur Rempah yang kita banggakan saat ini sama halnya dengan jalur perbudakan Trans-Atlantik? Saya serahkan itu kembali pada pembaca. Selamat membaca.

16 Juli 2021

Biar Outfit Traveling Engga Gitu-Gitu Aja, Bikin Desain Hoodie Sendiri di Instaprint

Desain untuk outfit traveling sablon hoodie di Instaprint.
Sering enggak sih kalau kamu traveling melihat outfit--biasanya yang laki-laki--desainnya atau temanya hampir mirip gitu-gitu aja? Bahkan kadang-kadang, kalau diperhatikan, bisa jadi baju atau jaket yang dipakai malah mirip dengan kepunyaan orang lain.

Satu, dua, orang yang serupa, okelah tidak masalah. Tapi kalau sampai 10 hingga lebih, tentu rasanya janggal. Sekilas, rasanya bagaikan rombongan anak sekolah lagi study tour--pakaiannya sama semua.Tentu, pasti rasanya seperti kurang mengekspresikan jati diri kamu.Nah, kebetulan saat ini saya membuat desain hoodie sendiri dengan bertajuk "Decolonizing Travel", karena punya kampanye tersendiri selama pandemi.

Saya kebetulan sedang kurang jalan-jalan karena masa pandemi yang sedang puncak-puncaknya. Sehingga mulai merefleksikan apakah kegiatan traveling saya yang sebelumnya dilakukan sudah benar? Apakah sudah menghargai kebudayaan setempat atau justru melecehkannya karena pandangan saya yang begitu liberal?Apakah bijak atau etiskah tetap traveling di saat kondisi yang bisa saja membawa penyakit bagi orang lokal?

Dari situlah saya mulai memikirkan bagaimana traveling yang beretika dan tidak bertindak seperti penjajah yang hanya datang untuk melihat keindahan alam, tapi tak belajar sesuatu dari kondisi sekitar, bahkan mengacaukan dan mengeksploitasi orang-orang lokal.

Mungkin kamu bisa cek juga postingan sebelumnya, bagaimana perjalanan memberi hikmah pikiran kita untuk membuka cakrawala pandangan yang luas di sini.

Lalu, dimana saya bisa sablon buat hoodie yang bagus?

Kebetulan, saya diajak teman buat mencoba sablon pakaian di Instaprint, buat menyebarkan virus Decolonizing Travel ini. Pas diajak itu saya sebenarnya sedikit kaget, lantaran setahu saya Instaprint adalah--sesuai namanya--ya, buat tempat ngeprint, seperti skripsi saya yang lagi riweuh (baca: banyak revisian).

Tapi karena dia meyakinkan, saya coba untuk lakuin saja dulu dan memberikan desain untuk nantinya jadi hoodie. Setelah tahu dari situs pemesanan mereka, ternyata harga yang disajikan menyajikan harga sablon yang murah banget. Mulai dari hoodie, kaos, sampai jersey bola, mereka mau layani. Desainnya bisa kita atur sesuai keinginan kita, mau itu warnanya hitam-putih, atau berwarna-warni seperti yang saya punya.

Desain untuk outfit traveling sablon hoodie di Instaprint.


Terus, pesannya harus lusinan ya?

Seperti yang disampaikan sebelumnya, karena ingin memiliki gaya outifit traveling yang berbeda saya memesan hoodie ini dengan satuan. Instaprint sendiri untuk membuat sablon tidak memandang jumlah minimum order.

Kamu bebas membuat desain sesuka kamu sendiri, yang tentunya bisa menyampaikan gagasan yang menarik ala kamu sendiri. Jika tidak bisa desain sendiri, tenang saja, Instaprint bisa bantu nge-desain sablonannya, kok dengan biaya tambahan.

Terus, produk sablon yang dipesan juga tidak butuh waktu lama kok. Memang sih semenjak pandemi begini susah untuk datang langsung ke tempatnya. Sebagai solusinya kamu bisa sambangi akun Instagram Instaprint (@in8taprint). Di bio profil mereka, ada opsi untuk menghubungi langsung ke Whatsapp ke cabang-cabang mereka. Atau pilihan lainnya, kamu juga bisa order lewat Shopee dan Tokopedia  di akun Instaprint Online.

Prosesnya, nanti ketika kamu sudah menghubungi, memilih produk, dan membayar, Instaprint bakal langsung gerak cepat biar pesanan bisa tiba secepat mungkin. Apa lagi kalau sekadar cetak foto, stiker, atau flyer. Tetapi, kalau untuk sablon hoodie membutuhkan waktu paling cepat 1x24 jam.


Cepat amat, memangnya bagus?

Kalau dilihat dari kainnya, saya lihat bagus. Mereka pakai hoodie berbahan cotton fleece yang terasa lembut dan elastis saat dipakai, serta cepat kering saat dicuci--tentu kamu butuh bahan pakaian seperti ini saat backpackeran minim persediaan pakaian.

Sablon di Instaprint menggunakan teknik DTF, sehingga hasilnya lebih halus dan sangat menempel dengan kainnya, jadi tidak perlu khawatir saat mencuci biasa menggunakan sikat yang bikin rusak sablon pada umumnya.

Lewat teknik seperti itu, membuat warna dari desainnya cenderung cerah, tak heran kalau Instaprint memang berani kasih jasa sablon yang bisa beragam warna.Jadi gimana, mau bikin outfit travelingmu dengan menggunakan jasa sablon di Instaprint? 

Saya sih ketagihan dengan kualitas sablon dari Instaprint. Saya tentunya bakal nyablon di sana lagi kalau bosan dengan desain outfit saya yang itu-itu saja, atau sekadar hendak membuat kampanye seperti Decolonizing Travel.

27 November 2020

Buka Pikiran Lewat Traveling, Lebih Sekedar Dari Bacaan Filosofis

Nilai filosofis dari Setiap Perjalanan. Gambar yang memberi simbol sebagai pembuka wawasan atau pikiran saat traveling yang didasari dengan bacaan-bacaan.


Jika kamu tinggal di ibukota, mungkin kamu bosan dan bisa stress karena selalu dengar suara mesin, angin yang berhembus, klakson, mesin lagi, angin, klakson lagi, dan lainnya yang bising dari ibukota kayak iklan Spotify. Kemudian kamu mencoba untuk mengambil cuti, atau mengincar tanggal-tanggal libur kuliah untuk bisa traveling dan melihat sisi lain dunia di luar metropolitan.

Tenang, itu maklum kok. Itu tandanya kamu manusia dan bukan robot. Kegiatan traveling yang bisa dimaksudkan juga sebagai leisure (waktu luang). Jika kamu dapat sadari kegiatan merupakan tindakan filosofis menurut perspektif filsuf Yunani, Aristoteles. Leisure berguna supaya diri kita bisa memikirkan dengan sehat langkah selanjutnya yang perlu kamu ambil dalam menjalani kehidupan.

Ada banyak sebenarnya kegiatan leisure, seperti menonton TV, baca buku, atau berolahraga di gym. Tapi mengapa bisa dibilang traveling itu dapat membantu melihat dunia lebih dari sekedar baca buku filsafat?

Walaupun tulisan ini memberikan buku rujukan, bukan berarti kamu harus membuang-buang waktu untuk membacanya dan menjadi kutu buku. Setidaknya, buku-buku yang jadi rujukan ini menjadi bahan dasar pemahaman kamu sebelum menjelajah. Kamu juga bisa cukup sekedar tahu pemikiran dari pemikir berdasarkan buku bacaan-bacaan lainnya.

Melihat Semesta

Pernahkah kamu berkemah di pantai atau di gunung? Saat berkemah di gunung kamu bisa mendengar sepoi dan sejuknya udara dataran tinggi tersebut. Sedangkan saat di pantai kamu bisa melihat perubahan pasang-surut dan nyiur deru ombak laut. Pernahkah kalian memahami bagaimana itu bisa terjadi? Sistem apa yang bekerja di balik semua fenomena alam? Kemungkinan terbesar dari Alam apa yang dapat membentuk kita menjadi seperti ini? Lalu, apa yang mesti kita perbuat?

Merasakan alam dan merenunginya untuk membuka pikiran.
Merenungi bagaimana semesta bekerja.

Bagi kamu yang terbiasa dengan membaca buku filsafat dan pengetahuan lainnya, tentu mungkin bisa menemukannya dengan mudah. Tapi bagaimana jika kamu hanya membaca buku saja tapi tidak merasakannya secara langsung? Apakah imajinasi saja sudah cukup?

Agar kita bisa percaya pada suatu pemahaman, perlulah kita melihatnya secara empiris (nyata) tanpa hanya mengamini perkataan seseorang dalam buku. Buku memang jendela dunia, tapi kaca jendela bisa kotor sehingga pandangan kita melihat keluar jendela jadi kabur.


Tapi alangkah lebih idealnya, ketika sebelum melakukan perjalanan yang penuh perenungan kamu perlu membaca buku mengerti dunia. Ibaratnya seperti lihatlah dulu dari jendela, kemudian keluar dan rasakan apa yang ada di luar jendela. Mungkin sebagai dasar jika kamu tidak teralalu suka baca buku, bisa kamu lakukan dengan recall pengetahuan dasar yang pernah diajarkan di sekolah seputar ilmu pengetahuan alam.

Saya menyarankan buku-buku berikut sebelum kamu melakukan perjalanan: buku tentang eksistensialisme seperti Jean Paul Satre, konsep nilai-nilai kosmik seperti buku-buku karya Karen Armstrong, melogikakan pandangan sekitar dengan Madilog karya Tan Malaka, atau yang lebih mudah dibaca seperti buku-buku karya Yuval Noah Harari, dan Agnostic: A Spirited Manifesto oleh Lesley Hazleton.

Melihat Budaya


Kemana pun kita pergi ke tempat jauh, di sana memiliki nilai budaya yang berbeda dengan tempat asal kita atau nilai yang kita miliki. Setiap tempat memiliki nilai filosofi yang berbeda-beda, bahkan ada yang belum terkuak oleh pengetahuan filsafat manapun, meskipun masih termasuk bagian dari filsafat mistik dan rohani.

Merasakan riuhnya budaya dan merenunginya untuk membuka pikiran.
Sigale-gale, kekayaan budaya di pulau Samosir.

Jika perjalananmu bertujuan untuk belajar, ketahuilah bahwa setiap nilai memiliki unsur kebenaran. Melalui keberadaan kebudayaan yang dimiliki masyarakat setempat, kita dapat mengenal bahwa manusia diciptakan dengan berbagai pemikiran yang bisa dipetik.

'Seaneh' apapun nilai yang dimiliki suatu kebudayaan, janganlah dianggap remeh atau rendahan. Karena kebudayaan yang sekelompok manusia memiliki justru menjadi nilai diri mereka untuk tetap hidup.

Inilah yang dimiliki oleh pelancong daripada sekedar membaca buku. Mungkin buku-buku filsafat bisa menjabarkan tentang filsafat mistik atau kebudayaan pada umumnya. Tetapi ketika melakukan perjalanan kamu bisa belajar langsung kepada masyarakat sekitar yang memeluk kebudayaan tersebut, seperti kepala suku dan sepuhnya mengenai nilai filofis yang mereka miliki.

Melihat Sosio-Politik


Hampir sama dengan melihat sisi budaya, masyarakat di suatu negara juga berjalan karena ada landasan peraturan, regulasi, dan undang-undang yang disepakati bersama, atau undang-undang yang ditakuti, sehingga menciptakan kepatuhan. Contoh, kalau kamu main ke Singapura jarang sekali ditemukan orang yang makan permen karet karena ada peraturan yang mengatur dan memberikan sanksi akibat kegiatan tersebut.

Merasakan suasana beda negara dan merenunginya untuk membuka pikiran.
Asiatique The Riverfront di Bangkok, Thailand.



Ada berbagai sisi tentang perkembangan filsafat sosio-politik di suatu negara. Pertama kamu bisa melihatnya dengan bagaimana sebenarnya hukum aturan tersebut dibentuk dan melihat alasannya. Kedua, kamu bisa melihatnya dengan kacamata kritis tentang bagaimana aturan tersebut sebenarnya mengandung unsur ketidakadilan.

Beberapa rujukan buku yang mungkin bisa 'menyentuh' pikiranmu soal isu politik yang kamu temukan dalam perjalanan ada banyak sekali. Beberapa di antaranya seperti, The Third Way: Pembaruan Demokrasi Sosial karya Anthony Giddens, hingga yang paling mudah dibaca seperti Mitos Merebut Negara karya Jun Bramantyo.

Referensi Tak Hanya dari Buku 'Totok' Filsafat Saja


Tidak semua orang tentu bisa membaca buku filsafat 'totok' atau bisa disebut buku yang murni membahas filsafat. Ada banyak pesan-pesan filosofis tersirat di buku atau bacaan lainnya seperti fiksi, majalah, dan artikel media online, yang bisa kamu renungi dulu sebelum atau sesudah traveling.

Traveling memang penting untuk menyantaikan pikiran yang selama ini didikte terus oleh tanggungan kerjaan atau kuliah. Pikiran kita bisa merenung dan memikirkan hal-hal yang kita mau saja untuk memetik nilai dari perjalanan.

Saran jika kamu nanti melakukan perjalanan dengan transportasi umum, alangkah baiknya diisi dengan membaca buku. Lebih baik lagi bacaannya mengenai tempat yang akan dituju supaya bisa mengenal baik lapangan di sana.

Selamat jalan-jalan!

07 November 2020

Google Maps di Sumatera, Kesasar Sampai Lahan Belantara!

Gambar judul postingan, nyasar di belantara Sumatera gara-gara Google Maps


Akhir bulan Oktober 2020 ini ada berkah buat semua pekerja: cuti panjang selama seminggu. Momen itu saya dan keluarga manfaatkan untuk berkunjung ke acara pernikahan sepupu saya di Kerinci, Jambi. Selama perjalanan kami menggunakan aplikasi navigasi Google Maps untuk menunjuk kami jalan di Sumatera, dari Tangerang-Lampung-Palembang-Jambi-Bukittinggi (kami sekalian jalan-jalan dulu hehe)-Kerinci. 

Tapi yang menyebalkannya adalah GPS saya sering kali eror. Posisinya di Maps saya berubah-ubah, paling mentok akurat saya berada di pinggir jalan. Sering banget saya harus kalibrasikan ulang GPS saya, padahal saya adalah navigator dalam perjalanan.


Kalau dibilang mungkin kesalahan sinyal karena ponsel pakai provider yang sinyalnya lemah, enggak juga. Sebab selama perjalanan, kami menggunakan WiFi portabel dan providernya sangat memumpuni—kecuali di beberapa tempat.

Dari sekian hal menyebalkan dari GPS Google Maps yang susah tersambung dan posisinya yang ngawur, yang paling parah adalah saat kami di-direct lewat jalan perusahaan perkebunan sawit. Kejadian ini terjadi saat pulang kondangan di Kerinci dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Rencananya, kami ingin lewat Prabumulih karena kota itu cukup dekat dengan tol menuju Bakauheni, Lampung. Navigasi di Google Maps mengatakan bahwa perjalanan ke Prabumulih hanya 5 jam tanpa harus melewati Lahat dan Mura Enim. Jelas saja, kami menuruti jalur tercepat itu, meskipun tidak jelas di Google Maps itu jalan kecamatan, atau alternatif resmi lainnya.

Rute menuju Prabumulih dari Lubuklinggau yang kami kira cepat menuju tol Sumatera
Rute menuju Prabumulih dari Lubuklinggau yang (kami kira) cepat, sedangkan lingkaran merah adalah rute setapak.

Stuck!

Saat perkampungan sudah lewat, lambat laun pepohonan jati, sawit, karet, hingga hutan-hutan yang mengisi tanpa adanya tiang listrik. Begitu pula jalanan yang tadinya aspal berganti menjadi setapak, dan berlumpur. Kami tidak peduli, mungkin sudah jalan yang semestinya dan tercepat. Toh ternyata ada mobil berplat B juga di belakang kami, tentu jalan ini pasti sudah umum.


Sampai akhirnya mobil yang saya naiki tergelincir dan terjebak di lumpur pinggir jalan—rombongan kami ada 2 mobil, yang satu lagi platnya L dan tidak terjebak lumpur. Tak hanya mobil saya, mobil plat B itu juga terjebak di tengah jalan setapak.

Beruntung mobil sebelah terjebak dan cepat keluar, rombongan kami yang plat L aman dan maju terus hingga ke balik bukit beberapa puluh meter di depan. Sedangkan mobil kami masih terjebak, sehingga kami ditolong oleh mobil plat B tersebut.


Dari mobil tersebut ada 3 bapak-bapak yang menolong kami (saya, adik laki-laki saya, ayah, dan supir kami). Kaki hingga baju kami berlumuran lumpur demi mendorong mobil, sangat susah karena ban ternyata masuk ke lumpur cukup dalam. Beruntung pula di sana ditemukan gundukan batu, sehingga kami gunakan untuk menjadi landasan ban depan kami yang tak dapat bergerak.

Bantuan Datang Terlambat

Setelah berhasil keluar dari kubangan lumpur, mobil kami segera ke tengah-tengah jalan yang cukup kering dan keras. Tak lama berselang, mobil rombongan kami yang plat L datang, dan di depannya ada pick-up  abu-abu dengan bannya yang cukup besar.

"Putar balik, pak! Ini jalan kami, bukan jalan umum," kata supir pick-up. "Kalian salah jalan, jangan ikuti Google Maps."

Mendengar perkataannya, tandanya sudah banyak korban yang melalui jalan yang bukan untuk umum ini. Jalan ini sebenarnya untuk pekerja perkebunan dari beberapa perusahaan energi, seperti Pertamina, Medco Energy, dan PT Cipta Futura.

Kaki saya berantakan euy.

Akhirnya rombongan kami dituntun oleh pekerja tersebut menuju perkampungan terdekat. Berikutnya kami keluar lewat Lahat dan melanjutkan perjalanan. Sungguh, perjalanan yang merepotkan dan penuh lumpur. Beruntung kami bertemu dengan mereka dan diarahkan keluar. Jika tidak, kami bisa terjebak lagi, ditambah cuaca yang sudah mendung dan bila hujan memungkinkan jalanan makin licin.

Kami langsung cari pom bensin di sekitar Jalan Raya Lintas Sumatera yang mengarah ke Lahat, dan saat keluar. Ta Da! Mobil yang saya tumpangi udah persis kayak babi di kubangan lumpur. 😅

Mobil yang saya naiki kena lumpur karena kesasar di lahan belantara mengikuti arahan Google Maps, bannya penuh dengan lumpur yang mengkerak.
Eh ternyata foto yang saya miliki tak sekotor saat di jalan. Mungkin lumpurnya rontok di jalan.




Terus yang plat B itu kemana? Ia melanjutkan perjalanan, tak mengikuti saran pekerja setempat. Semoga mereka selamat.

***

Perjalanan ini mengjarkan saya satu hal baru, jangan begitu saja percaya dengan Google Maps meskipun rute yang ditawarkan adalah yang tercepat. Kita perlu crosscheck dulu di Google Satelitnya tentang medan dan jenis jalanan apa yang akan kita hadapi.

Adik saya yang punya concern dibidang IT bilang, jalanan ini muncul di Maps bisa jadi karena AI (kecerdasan buatan) Google yang mengira itu jalanan umum. Jalanan terbaca oleh AI karena pernah dideteksi oleh satelit yang pernah lewat, kemudian GPS Google juga membaca adanya pergerakan penggunanya di jalanan itu, sehingga dibuatlah rute.

Untuk meminimalisir kejadian serupa, sebaiknya gunakan Waze saja. Sebab komunitas pengguna Waze lebih aktif daripada Google Maps dalam menginformasikan lalu lintas.

22 Agustus 2020

Lyceum, Komunitas dan Perpustakaan untuk Masyarakat


Belakangan jika teman-teman sosial media saya perhatikan kegiatan saya saat ini sedang sering-seringnya mengadakan perpustakaan keliling dengan nama Lyceum. Kegiatan saya ini dilakukan bersama teman-teman komunitas untuk meningkatkan tingkat literasi di kalangan masyarakat. 

Tentu kegiatan ini bukanlah gagasan baru. Ada banyak perpustakaan keliling di sekitar Tangerang Raya ini dan digerakan oleh anak-anak muda sejak SMA, mahasiswa, atau yang sudah berusia tua. Tapi saya rasa perpustakaan yang menyajikan tempat diskusi, dialog, dan mampu menjadi wadah untuk menciptakan pengetahuan itu sendiri, saya rasa belum ada.

Awal Mula Lyceum dan Perpustakaan

Inisiator pertama Lyceum adalah saya pribadi yang resah dengan tingkat membaca yang rendah di Tangerang. Sebenarnya saya pribadi sudah lama ingin melakukan kegiatan perpustakaan keliling ini, hingga Juli kemarin saya bulatkan tekat untuk mewujudkannya (selain karena lagi nganggur ya).

Kemudian saya menyerukan selembaran akan melakukan kegiatan ini di sosial media seperti Twitter, Instagram, Facebook, bahkan LinkedIn! Tak menyangka ternyata banyak yang tertarik untuk membagikan, mendonasi, dan ada yang bergabung menjadi bagian komunitas.

Rekan-rekan saya dalam komunitas Lyceum (atas: Fattah sedang membacakan cerita untuk anak-anak. bawah: Mario menyeduhkan kopi gratis untuk momen #MembacaMerdeka)



Sejak debut (ciah debut ga tuh) pertama kami di akhir Juli, banyak media alternatif dan influencer yang ikut membantu eksposur keberadaan kami agar mendapat donasi dari publik. Beberapa di antaranya adalah Logos, Humane Magazine, dan Schole ID.

Athens Lyceum dan Tangerang Lyceum

Maka bersama teman-teman, kami menggerakan komunitas Lyceum ini dan terinspirasi dengan Lyceum yang didirikan oleh Aristoteles 24 abad yang lalu dan kami sesuaikan dengan konteksnya dengan zaman sekarang.

Jika pada zaman Aristoteles Lyceum digunakan sebagai sekolah peripatetic (pengikut Aristoteles yang belajar darinya sambil jalan-jalan keliling sekitar), maka Lyceum kami benar-benar jalan-jalan dan keliling sekitar di lingkup Tangerang Raya. 

Saya bersama anak-anak setempat.

Jika Lyceum menjadi sarana Aristoteles membagikan ilmu dan pemahaman yang didapatnya dari Plato dan umumnya filsafat, Lyceum kami bebas untuk menyampaikan pikiran dari ideologi manapun untuk dibagikan, dan menyajikan bacaan-bacaan lintas ideologi serta ilmu apapun.

Bikin Haru

Selama melakukan kegiatan perpustakaan keliling banyak hal yang membuat saya terharu. Tak menyangka, ternyata ada banyak peminat pembaca selama kami keliling Tangerang Raya untuk membaca dari segala usia. Mulai dari anak-anak yang buta huruf dan ingin belajar membaca, hingga orang tua yang cinta membaca.

Jujur saja, para pembaca yang berkunjung pada kami, terutama anak-anak sangat antusias dengan bacaan-bacaan kami dan ingin belajar bersama kami.

perpustakaan keliling Lyceum di jembatan kaca
Dokumentasi kegaitan perpustakaan keliling Lyceum.

perpustakaan keliling Lyceum di jembatan kaca

perpustakaan keliling Lyceum di jembatan kaca

Mereka mengakui bahwa diri mereka suka membaca, tapi buku adalah produk yang mahal untuk dibeli. Selaras dengan pengalaman narasumber saya saat liputan Bulukumba 2 tahun yang lalu, seorang akademisi yang membuka sanggar baca di kampung halamannya yang dicap buruk, Ahmad Sahide. 

Tapi di sini bukan berarti kami merasa sok paling pintar atau sumber pengetahuan, di sini kami adalah wadah. Kami sama-sama tidak pintar dan ingin belajar dari orang lain yang bersedia berkunjung untuk nongkrong di lapak kami dan memberikan ilmu.

Join Us!

Sampai saat ini, kami hanya berisi 4 anggota komunitas (Saya, Mario, Fattah, dan Annisa) dan tentunya kami terbuka untuk siapapun untuk berpartisipasi dengan kegiatan kami. Keuntungannya tentu bisa menambah dan bertukar wawasan, terutama menyumbangkan pengetahuannya kepada yang kurang terliterasi. 

Keuntungan lainnya juga kamu bisa pinjam buku di perpustakaan Lyceum untuk dibawa pulang dengan waktu berjangka.

Jika ingin ikut membantu dengan donasi buku, uang, dan lainnya, kamu bisa hubungi akun sosial media Lyceum yang ada di Instagram, Twitter, dan Facebook.

Atau mungkin kamu punya saran tempat yang bisa untuk kami kunjungi di kawasan Tangerang Raya untuk kami melapak? Silahkan komentar di bawah postingan ini, ya!

20 Juli 2020

Naik Motor Sendirian ke Gunung Luhur, Negeri di Atas Awan


Lama tidak melakukan perjalanan karena wabah COVID-19, saya melakukan inisiatif naik motor sendirian ke Gunung Luhur. Alasannya selain suntuk untuk terlalu lama di rumah terus, saya mencoba melatih mental saya yang terlanjur nyaman di rumah.

Tentunya perjalanan ke Gunung Luhur yang dijuluki Negeri di Atas Awan ini saya lakukan mengikuti protokol pencegahan virus. Meskipun berdasarkan pengamatan saya di lokasi, para pengunjung dan petugas tidak melakukannya. Pastikan selama ini Anda gunakan masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak ya!


Akses Transportasi ke Gunung Luhur dari Tangerang


Untuk yang tinggal di Tangerang, kawasan ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan menggunakan motor. Anda bisa melalui Parungpanjang atau Rumpin untuk selanjutnya menembus melalui Jasinga kemudian Cipanas.

Naik motor sendirian ke Gunung Luhur, tak usah takut. Matahari saja tetap terang benderang walau sendirian tak memiliki pasangan untuk mengitari pusat galaksi. Cieh.
(Sumber: Foto pribadi)


Jika sudah sampai Cipanas, berikutnya saya berbelok dimana terdapat palang untuk belok dan bertuliskan "Pondok Pesantren La Tansa". Berhati-hatilah jika Anda datang saat cuaca hujan, sebab jalan tersebut rawan banjir, longsor, dan jalanan yang licin.


Setelah melalui Ponpes La Tansa, saya memasuki Lebakgedong. Pada kawasan ini ditemukan banyak sekali longsoran dan jalan rusak parah yang tentunya akan sulit diakses bila menggunakan mobil.
Terutama, terdapat jembatan yang hancur berkeping-keping bagai hati yang merasa kecewa padanya, sehingga tidak memungkinkan mobil bisa lewat.

Sungai Ciberang di Lebakgedong yang seharusnya ada jembatan besar untuk akses ke Gunung Luhur
Jembatan gantung untuk diakses melalui motor, dan pejalan kaki harus turun ke sungai.
(Sumber: Foto pribadi)


Jembatan Lebakgedong yang rusak, satu-satunya akses untuk Menuju Gunung Luhur
Jembatan gantung untuk motor
(Sumber: Foto pribadi)


Jika memang harus menggunakan mobil karena beramai-ramai, saya sarankan melalui Sukabumi dan Bayah saja.

Setelah melalui Lebakgedong dan menuju Citorek, jalanan sudah mulai bagus dan rapih. Ada banyak tanjakan dan turunan terjal sehingga sebaiknya berhati-hati.

Terakhir, saya sarankan jangan berangkat saat malam karena minim cahaya.

Akomodasi untuk Menanti Sunrise di Negeri di Atas Awan

Saat tiba di lokasi wisata, setiap kendaraan yang masuk akan ditagih harga parkir. Harganya murah Rp2.000 untuk motor, dan Rp5.000 untuk mobil. Selanjutnya, percayakan saja keamanan parkiran pada petugas wisata yang selalu menggunakan rompi.


Ada dua pilihan untuk bermalam untuk menanti sunrise di Gunung Luhur, yaitu kemah (bertenda) atau saung penginapan.

Tempat wisata Gunung Luhur.
(Sumber: Foto pribadi)

Suasan perkemahan Gunung Luhur yang tentunya saya tidak mendirikan tenda di sana.
(Sumber: Foto pribadi)


Berkemah menggunakan tenda sendiri dikenai biaya Rp30.000 per tendanya. Sedangkan jika ingin menyewa, Rp50.000 per tenda untuk kapasitas 5 orang.

Saung penginapan harganya Rp250.000 per malam pada akhir pekan (malam Sabtu dan malam Minggu) dan Rp150.000 per malam pada hari lainnya.

Setiap saung penginapan memiliki warung di bawahnya dan jumlahnya terbatas. Jika ingin melakukan pemesanan jauh-jauh hari, Anda bisa menghubungi nomor berikut: 085780900049 (Pesona Ciusul).

Tenda saya berdiri di perkemahan Gunung Luhur
Tempat saya berkemah.
(Sumber: Foto pribadi)

Saya pribadi memilih untuk kemah dengan tenda sendiri karena lebih hemat. Karena saya tidak begitu suka keramaian untuk berkemah, saya memilih tempat kemah di kawasan yang sepi dan tidak berpolusi cahaya supaya bisa stargazing (Asli, bintang-bintangnya bagus banget kalau enggak mendung).

Buat teman-teman yang mungkin ingin berkemah tapi tidak tahu tenda apa yang cocok, mungkin Anda bisa melihat rekomendasi saya seputar jenis-jenis tenda di sini.

Wifi yang Tidak Gratis


Toilet Rp2.000, Okelah bila untuk biaya kebersihan. Tapi ternyata selain toilet, ternyata wifi di sini tidak gratis. Saya bisa menebak-nebak saya untuk memaklumi, karena di Gunung Luhur ini sinyal sangat susah, hanya Telk*msel dan Ind*sat saja yang tersedia.

Biaya wifi untuk setengah harinya dikenakan biaya Rp10.000 dan berlaku juga untuk kelipatannya. Tapi percayalah, sinyalnya lemot bukan main, terutama di tempat saya berkemah.

Sunrise dari Ketinggian


Supaya bisa melihat sunrise, Anda harus menaiki bukit yang dekat dengan penginapan. Sebelum naik, Anda harus bayar Rp5.000 per orang.

Sunrise di sini bagi saya istimewa. Matahari menyembul dari pegunungan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dengan semburat-semburatnya yang perlahan menyinari desa di bawahnya yang kecil. Sayang sekali saya tidak membawa kopi untuk dinikmati selama mentari muncul. Indie abis kalau kata orang-orang.

Wisata Gunung Luhur
(Sumber: Foto pribadi)

Para wisatawan Gunung Luhur berswafoto saat Sunrise
Wisatawan yang berswafoto dengan sunrise.
(Sumber: Foto pribadi)

Ketika sudah di atas, jangan harap volume pengunjungnya sama dengan saat menginap. Saat saya sampai di atas, ternyata ramainya bukan main. Jika ingin berswafoto, pintar-pintarlah mengambil spot. Saya sendiri pun tidak begitu banyak mengambil foto karena kepadatan ini.

Sungguh amat disayangkan bahwa ternyata para pengunjung tidak bermasker dan saling berdekatan satu sama lain. Saya sudah susah-susah payah untuk mengikuti protokol ternyata di lokasi, bahkan petugas setempat juga tidak mengingatkan. Walaupun ada banyak spot untuk cuci tangan, berdasarkan pengamatan saya juga nyaris tidak dipergunakan. Mungkin untuk kondisi new normal ini, pariwisata khususnya Gunung Luhur, belum siap dan tegas dalam menjalankan protokol ini.

Tetap jaga kesehatan, teman-teman!