07 November 2021

Pelesir Pangandaran, Wisata Alam nan Menawan dan Ragam Situs Sejarahnya

Pantai Barat Pangandaran saat sunset
Pantai Barat Pangandaran saat sunset. (Afkar Aristo)


Awal Februari 2021, saya datang ke Pangandaran bersama Iqbal. Kami menggunakan bus dari Tangerang dengan harga sekitar Rp200.000 dengan waktu tempuh dari petang hingga sepertiga malam. Tujuan di sana juga untuk mengunjung teman semasa SMA kami, Aditia Santosa, pembuat film yang juga turut pernah saya bantu sejak SMA hingga beberapa waktu lalu.

Rencana perjalanan ini mendadak. Iqbal ingin berlibur sekaligus menuntaskan pekerjaannya di Pangandaran bersama production house milik Adit, Lampu Creative. Sedang tujuan saya memang murni untuk jalan-jalan, tapi juga mencari sesuatu yang mungkin layak untuk diberitakan.

Subuh buta itu, Adit menjemput kami di Terminal Pangandaran dengan mobil. Setibanya di rumahnya, tak disangka lebar juga kediamannya, dan memiliki studio film sendiri untuk production house-nya walau cuma menggunakan gudang—yah, namanya juga memulai usaha terutama di bidang kreatif, tentu butuh dari kecil dulu, kan?

Sayangya, pagi itu Adit tidak bisa kemana-mana karena ada urusan kampus yang harus ditunaikan, dan meminjamkan kami motor untuk jalan-jalan.

Pantai dan atmosfer Pangandaran

Apa yang dipikirkan ketika kamu tiba di Pangandaran? Tentu pantai, bukan? Hari pertama itu kami gunakan untuk berjalan-jalan ke Pantai Sebrotan. Berdua saja di siang yang cerah berawan. Cukup besar ombak di awal tahun itu. Ombak berdebur tinggi, meski cuaca terlihat cerah. Sangat mudah pula saya memprediksi bagaimana pola cuaca di Pangandaran di musim hujan bulan Februari yang nantinya akan saya ceritakan lebih lanjut seiring perjalanan.

Di Pantai Sebrotan, Iqbal berujar, biasanya bila dirinya datang ke Pangandaran untuk urusan bersama teman-teman Lampu Creative, mereka akan berkemah di sini. Suasanya yang syahdu dan jarang orang yang berkunjung ke sini, kecuali para pemancing ikan.

Deru ombak menerjang tebing karang di Pantai Sebrotan
Deru ombak menerjang tebing karang di Pantai Sebrotan. (Iqbal Syis)



Tak jauh dari sana, kami ke muara Pantai Madasari. Mungkin bagi kalian yang mengikuti media sosial Susi Pudjiastuti yang suka paddling tentu akan kenal dengan pemandangan ini. Ombaknya yang ramah biasanya digunakan oleh pengunjung dalam maupun luar negeri.

Tapi karena berhubung saat senja langit yang selalu mendung di bagian utara Pangandaran. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali sesegera mungkin. 

Kami kembali menggunakan jalur berangkat yang juga menjadi objek wisata lainnya di dekat pantai dan Green Canyon—tidak, kami tidak mengunjungi Green Canyon karena harganya yang mahal untuk jalan-jalan murah—yakni sebuah jembatan gantung. Sejatinya, tidak ada yang menarik di tempat itu kecuali jembatan kayu yang tradisional, tetapi menjadi objek wisata bagi banyak kalangan. Saya dan Iqbal memutuskan hanya melintasi saja.

Pukul empat sore, kami telah tiba kembali di rumahnya Adit. Dia sudah selesai—setidaknya untuk hari ini—untuk urusannya. Di sana juga ada Yandi yang biasa bertugas menjadi editor video Lampu Creative, dan Rizki yang biasa membantu produksi mereka.

Bermain voli pantai di Pantai Barat Pangandaran hingga hari gelap.
Bermain voli pantai di Pantai Barat Pangandaran hingga hari gelap. (Afkar Aristo)


Untuk mencari hiburan, kami langsung menghabiskan sore kami di Pantai Pangandaran Barat sambil bermain voli. Jaraknya tidak jauh, hanya satu hingga dua kilometer dari kediaman Adit. Memang, saya tidak pandai bermain voli, tapi tak salah kan untuk bermain?

Ketika hari hampir gelap, kami habiskan air kelapa yang kami pesan di Aa-Aa jualan yang ada di tepi lapangan.

Suatu malam di kafe Overtime

"Konsep lu emang gokil, Syis," ujar Adit mengomentari suatu episode mini-series yang digarap Iqbal. Hasilnya masih kasar yang masih disunting oleh Yandi. Malam itu kami di kafe Overtime tempat biasa mereka menongkrong.

Saya mencoba melihat cuplikan video yang belum selesai itu. Suasana dan aktivitas yang penuh sensasi di sekitar pesisir-pesisir Pangandaran oleh aktor dan aktris yang mencoba olahraga ekstrem. Video itu belum selesai, potongan-potongan gambarnya juga menggunakan tempo lagu dari The Panturas dan .Feast yang berjudul Gelora.




"Coba dah kalian beli copyright lagu ini buat series kalian," tanggap saya melihat kesusaian lagu dengan video mereka.

"Mau, sih, bang," balas Adit. "Tapi ncan aya duitna," lanjutnya terkekeh. Lagu ini nantinya akan diganti dengan composing buatan mereka. Lagu Gelora hanya menjadi patokan tempo saja.

"Eh kalian di sini?" tiba-tiba seorang perempuan berambut pendek muncul di antara gelak tawa kami berempat. Dia bersama temannya, perempuan dengan rambut pirang, belesteran Belanda-Indonesia. Mereka akhirnya duduk bersama kami malam itu dan berbincang. Namanya adalah Levina, dan yang satu lagi adalah Yolita.

Perbincangan kami berenam berujung pada Iqbal yang menyampaikan rencana saya yang ingin ke Cagar Alam Pangandaran. Saya ingin sekali ke sana untuk melihat hutan di Pananjungan Pangandaran yang tidak jauh dari tempatnya Adit.

Sayang, rencana besok tidak bisa karena terhalang kegiatan Adit untuk menyelesaikan tugasnya. Ternyata, tempat itu sangat dikenal oleh Levina yang menghabiskan waktu kecilnya di sana untuk jalan-jalan. Saya dan Levina akhirnya bertukaran kontak untuk janji besok. Levina juga mengajak Yolita yang juga penasaran untuk mengetahui lebih lanjut soal Pangandaran. Padahal, ini kan tempat dia tinggal.

Cagar Alam Pangandaran

Pukul enam pagi, mata saya masih sayup-sayup mendengar dering ponsel yang tidak henti-hentinya bergaung. Saya tidak enak dengan Adit dan Iqbal yang terganggu oleh suara ini, maka saya memutuskan mencoba untuk mematikannya. Tapi ternyata itu bukan alarm yang biasa berbunyi, tapi ternyata telepon dari Levina untuk menanyakan kesiapan kami.

Saya segera membangunkan Iqbal, mandi, dan bersiap-siap. Ternyata Adit tidak ada di kasur, dia sudah di studio untuk melanjutkan urusannya. Sungguh luar biasa gigihnya anak satu ini, gumam saya. Jam delapan, Levina dan Yolita tiba di pekarangan rumah Adit dengan mobilnya Yolita. Saya dan Iqbal sudah siap sambil merokok di studio.

Setibanya di Cagar Alam Pangandaran, kami berempat melihat banyak monyet di halaman depan. Kami masuk dengan harga masuk yang semetinya Rp16.000 per orang menjadi lebih murah. Saya lupa berapa, pastinya, tapi karena Levina dan Yolita orang lokal, dan saya membawa identitas pers jadi lebih murah.

Di sana, kami melihat ada peninggalan arkeologis dari masa Kerajaan Pananjungan yang merupakan bagian dari Kerajaan Galuh. Masih sedikit yang terungkap karena masih terpendam dalam gundukan tanah yang harus diekskavasi lebih lanjut oleh para arkeolog.

Levina menerangkan, kalau kerajaan ini berumur pendek akibat serangan perompak dari Nusakambangan. Kisahnya juga terkenal dengan Ratu Rengganis yang jadi permaisuri raja dan setia melindungi kerajaan hingga akhirnya tenggelam di Gua Cirengganis yang masih di dalam komplek cagar alam. Kisah singkat ini pernah saya paparkan dalam artikel National Geographic Indonesia dengan beberapa sumber sejarah yang bisa dipercaya untuk jadi acuan.

Salah satu pintu Goa Jepang di Cagar Alam Pangandaran. Meski kecil dan gelap, gua buatan ini memiliki jejak sejarah kemerdekaan Indonesia yang kelam. (Iqbal Syis).
Salah satu pintu Goa Jepang di Cagar Alam Pangandaran. Meski kecil dan gelap, gua buatan ini memiliki jejak sejarah kemerdekaan Indonesia yang kelam. (Iqbal Syis).


Selanjutnya ada pula Goa Jepang yang tentu memiliki cerita Perang Dunia II. Gua buatan ini berukuran kecil di sela-sela bukit kecil di tepi barat cagar alam. Berdasarkan guide kami dari BPCB setempat, tempat ini selain menjadi tempat pertahanan tentara Jepang, juga menjadi tempat tahanan orang Indonesia dan Belanda yang membelot. Tak jelas tentang fakta sejarah lebih lanjutnya, tetapi tempat ini butuh perawatan lebih.

Ada juga ragam pentilasan yang disakralkan di Cagar Alam Pangandaran. Situs yang kami kunjungi Gua Parat, Gua Panggung, dan Gua Cirengganis. Gua Parat dan Gua Panggung dikenal dalam sejarah asal mula penyebaran Islam di Pangandaran, sementara Gua Cirengganis dikenal sebagai tempat terakhirnya Dewi Rengganis dan pertemuannya dengan raja pertama Pananjung.

Gua Panggung di Cagar Alam Pangandaran, merupakan salah satu situs yang dikeramati penduduk setempat (Afkar Aristo).
Gua Panggung di Cagar Alam Pangandaran, merupakan salah satu situs yang dikeramati penduduk setempat (Afkar Aristo).


Gua Cirengganis di Cagar Alam Pananjung yang dipercaya airnya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh.
Gua Cirengganis di Cagar Alam Pangandaran yang dipercaya airnya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh. (Iqbal Syis)



Saya sempat bertemu dengan seorang Sunda Wiwitan di Gua Cirengganis. Dia menyediakan air dari gua tersebut untuk dikonsumsi yang dipercaya bisa melancarkan jodoh dan awet muda. Jika tertarik dengan pelajaran budaya, saya diajaknya untuk mencoba kesempatan lain untuk menonton tari ronggeng Pangandaran di balai. Sayang, untuk sementara kegiatan itu tidak ada karena pagebluk.

Kiri-kanan: Saya, Yolita, Levina, dan Iqbal. Berswafoto di depan Cagar Alam Pangandaran
(Kiri-kanan) Saya, Yolita, Levina, dan Iqbal, berswafoto di depan Cagar Alam Pangandaran.


Nyiur dan bersemedi di air terjun tersembunyi

Dimas, rekan Adit mengajak kami ke sebuah air terjun yang belum begitu terekspos, yaitu Curug Jambe. Tempat ini disarankan Dimas dan Adit karena mereka pernah membuat film di sini. Saya dan Iqbal mengunjunginya di suatu pagi bersama Dimas, dan lagi-lagi Adit belum bisa diajak.

Selepas hujan reda di kaki perbukitan tempat Dimas tinggal, kami bertiga berjalan ke sana. Menuju Curug Jambe bukanlah hal yang mudah, kami harus meninggalkan motor di sebuah kebun yang aman. Kemudian melewati sungai dan hutan yang membuat kaki saya keram pada malamnya, maklum jarang olahraga.

Medan yang terjal membuat kami harus berjalan kaki dan nyeker. (Afkar Aristo)


Perjalanan rasanya memang seperti Jejak Petualang di Trans7. Andai saja saya lapar saat itu, mungkin saya akan mulai mencari-cari hewan kecil yang bisa dimakan seperti program TV tersebut.
Tetapi ketika tiba, suasananya begitu tentram dengan melodi air terjun yang memanjakan telinga.

Tanpa fa-fi-fu, kami bertiga berenang ke telaganya yang jernih, atau terjun dari bebatuan. Tidak tahu berapa lama waktu dihabiskan di sana, rasanya malas untuk segera pergi—terlebih mengingat halang rintang untuk menuju tempat ini.

Iya, itu saya sedang bersemedi, menghanyutkan masalah dalam pikiran bersama air yang menerpa saya. Cailah! (Iqbal Syis).


"Sayang ini belum ditengok pemerintah sini," kata Dimas. "Tapi kan juga lumayan sepi-sepi gini."
Secara bergiliran, kami bersemedi di air yang jatuh dari ketinggian. Terapi pikiran dari beban-beban kerjaan rasanya hilang seiring dengan terpaan air yang jatuh. Saya menikmatinya, walau sebenarnya agak seram juga.

***

Perjalanan balik memang bikin capek dan membuat keringat muncul kembali. Demi membersihkan badan yang sudah berkeringat lagi, setelah kembali ke tempat motor, kami bertiga meluncur ke tempat berikutnya: Sungai Pingit. 

Dimas sedang terjun salto dari jembatan untuk kedua kalinya, sementara saya berusaha memegang tepi sungai setelah terjung dengan rasa panik. (Iqbal Syis)
Dimas sedang terjun salto dari jembatan untuk kedua kalinya, sementara saya berusaha memegang tepi sungai setelah terjung dengan rasa panik. (Iqbal Syis)



Sebenarnya ini destinasi yang cukup umum di Pangandaran, tetapi karena kami tiba bukan di hari libur, cukup sepi saat dikunjungi. Kami menikmati gorengan dan mandi di sungai, bahkan terjun dari jembatan bambu. Awal-awal seram, tapi setelah loncat jadi bikin ketagihan 😅.

Malam terakhir


Tidak menghitung berapa hari saya dan Iqbal di Pangandaran. Yang jelas, malam terakhir ini kami berkemah di Pantai Batu Karas sekaligus merayakan tayangnya episode pertama series What's Next yang disunting mati-matian oleh Yandi.

Kemah pantai ini akhirnya bisa diikuti oleh Adit, bersama teman-teman Lampu Creative lainnya seperti Yandi,  Dicky yang bisa menggantikan lagu Gelora sebagai soundtrack episode yang digarap Iqbal, dan Gilang yang menggarap episode pertama.

Malam yang panjang itu ada banyak diskusi tentang dunia perfilman yang menarik bagi saya untuk belajar, mulai dari tata kamera, mengatur musik, rencana pembuatan event yang hendak digarap tahunan oleh mereka, hingga mimpi PH ini bisa sebesar Visinema.



Ditemani secangkir kopi yang dibuat oleh Gilang (dia memang orang paling syahdu di gerombolan ini), dan ikan bakar yang dibuat bersama-sama. Malam ini tidak ada bintang karena awan mendung utara tiba di pesisir yang membuat terkadang gerimis. Suara yang menemani adalah lagu-lagu dari The Panturas atau The Mentawais yang cocok dengan suara ombak yang mengiring, terkadang juga kami bermain gitar.

Berkemah di sini gratis, tidak ada pungutan biaya karena Pangandaran memang sedang sepi-sepinya. Kesepian ini lambat laun membuat saya mulai mengenal mereka, dan sebaliknya.

Selama berkumpul saya memang lebih banyak diam, karena memang belum terlalu kenal dan pembahasan cukup internal bagi mereka. Lambat laun, saya mulai cair seperti saus tiram yang dituang terlalu banyak ketika makan malam secara liwetan. Sukses terus rekan-rekan Lampu Creative!