20 Juli 2020

Naik Motor Sendirian ke Gunung Luhur, Negeri di Atas Awan


Lama tidak melakukan perjalanan karena wabah COVID-19, saya melakukan inisiatif naik motor sendirian ke Gunung Luhur. Alasannya selain suntuk untuk terlalu lama di rumah terus, saya mencoba melatih mental saya yang terlanjur nyaman di rumah.

Tentunya perjalanan ke Gunung Luhur yang dijuluki Negeri di Atas Awan ini saya lakukan mengikuti protokol pencegahan virus. Meskipun berdasarkan pengamatan saya di lokasi, para pengunjung dan petugas tidak melakukannya. Pastikan selama ini Anda gunakan masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak ya!


Akses Transportasi ke Gunung Luhur dari Tangerang


Untuk yang tinggal di Tangerang, kawasan ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan menggunakan motor. Anda bisa melalui Parungpanjang atau Rumpin untuk selanjutnya menembus melalui Jasinga kemudian Cipanas.

Naik motor sendirian ke Gunung Luhur, tak usah takut. Matahari saja tetap terang benderang walau sendirian tak memiliki pasangan untuk mengitari pusat galaksi. Cieh.
(Sumber: Foto pribadi)


Jika sudah sampai Cipanas, berikutnya saya berbelok dimana terdapat palang untuk belok dan bertuliskan "Pondok Pesantren La Tansa". Berhati-hatilah jika Anda datang saat cuaca hujan, sebab jalan tersebut rawan banjir, longsor, dan jalanan yang licin.


Setelah melalui Ponpes La Tansa, saya memasuki Lebakgedong. Pada kawasan ini ditemukan banyak sekali longsoran dan jalan rusak parah yang tentunya akan sulit diakses bila menggunakan mobil.
Terutama, terdapat jembatan yang hancur berkeping-keping bagai hati yang merasa kecewa padanya, sehingga tidak memungkinkan mobil bisa lewat.

Sungai Ciberang di Lebakgedong yang seharusnya ada jembatan besar untuk akses ke Gunung Luhur
Jembatan gantung untuk diakses melalui motor, dan pejalan kaki harus turun ke sungai.
(Sumber: Foto pribadi)


Jembatan Lebakgedong yang rusak, satu-satunya akses untuk Menuju Gunung Luhur
Jembatan gantung untuk motor
(Sumber: Foto pribadi)


Jika memang harus menggunakan mobil karena beramai-ramai, saya sarankan melalui Sukabumi dan Bayah saja.

Setelah melalui Lebakgedong dan menuju Citorek, jalanan sudah mulai bagus dan rapih. Ada banyak tanjakan dan turunan terjal sehingga sebaiknya berhati-hati.

Terakhir, saya sarankan jangan berangkat saat malam karena minim cahaya.

Akomodasi untuk Menanti Sunrise di Negeri di Atas Awan

Saat tiba di lokasi wisata, setiap kendaraan yang masuk akan ditagih harga parkir. Harganya murah Rp2.000 untuk motor, dan Rp5.000 untuk mobil. Selanjutnya, percayakan saja keamanan parkiran pada petugas wisata yang selalu menggunakan rompi.


Ada dua pilihan untuk bermalam untuk menanti sunrise di Gunung Luhur, yaitu kemah (bertenda) atau saung penginapan.

Tempat wisata Gunung Luhur.
(Sumber: Foto pribadi)

Suasan perkemahan Gunung Luhur yang tentunya saya tidak mendirikan tenda di sana.
(Sumber: Foto pribadi)


Berkemah menggunakan tenda sendiri dikenai biaya Rp30.000 per tendanya. Sedangkan jika ingin menyewa, Rp50.000 per tenda untuk kapasitas 5 orang.

Saung penginapan harganya Rp250.000 per malam pada akhir pekan (malam Sabtu dan malam Minggu) dan Rp150.000 per malam pada hari lainnya.

Setiap saung penginapan memiliki warung di bawahnya dan jumlahnya terbatas. Jika ingin melakukan pemesanan jauh-jauh hari, Anda bisa menghubungi nomor berikut: 085780900049 (Pesona Ciusul).

Tenda saya berdiri di perkemahan Gunung Luhur
Tempat saya berkemah.
(Sumber: Foto pribadi)

Saya pribadi memilih untuk kemah dengan tenda sendiri karena lebih hemat. Karena saya tidak begitu suka keramaian untuk berkemah, saya memilih tempat kemah di kawasan yang sepi dan tidak berpolusi cahaya supaya bisa stargazing (Asli, bintang-bintangnya bagus banget kalau enggak mendung).

Buat teman-teman yang mungkin ingin berkemah tapi tidak tahu tenda apa yang cocok, mungkin Anda bisa melihat rekomendasi saya seputar jenis-jenis tenda di sini.

Wifi yang Tidak Gratis


Toilet Rp2.000, Okelah bila untuk biaya kebersihan. Tapi ternyata selain toilet, ternyata wifi di sini tidak gratis. Saya bisa menebak-nebak saya untuk memaklumi, karena di Gunung Luhur ini sinyal sangat susah, hanya Telk*msel dan Ind*sat saja yang tersedia.

Biaya wifi untuk setengah harinya dikenakan biaya Rp10.000 dan berlaku juga untuk kelipatannya. Tapi percayalah, sinyalnya lemot bukan main, terutama di tempat saya berkemah.

Sunrise dari Ketinggian


Supaya bisa melihat sunrise, Anda harus menaiki bukit yang dekat dengan penginapan. Sebelum naik, Anda harus bayar Rp5.000 per orang.

Sunrise di sini bagi saya istimewa. Matahari menyembul dari pegunungan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dengan semburat-semburatnya yang perlahan menyinari desa di bawahnya yang kecil. Sayang sekali saya tidak membawa kopi untuk dinikmati selama mentari muncul. Indie abis kalau kata orang-orang.

Wisata Gunung Luhur
(Sumber: Foto pribadi)

Para wisatawan Gunung Luhur berswafoto saat Sunrise
Wisatawan yang berswafoto dengan sunrise.
(Sumber: Foto pribadi)

Ketika sudah di atas, jangan harap volume pengunjungnya sama dengan saat menginap. Saat saya sampai di atas, ternyata ramainya bukan main. Jika ingin berswafoto, pintar-pintarlah mengambil spot. Saya sendiri pun tidak begitu banyak mengambil foto karena kepadatan ini.

Sungguh amat disayangkan bahwa ternyata para pengunjung tidak bermasker dan saling berdekatan satu sama lain. Saya sudah susah-susah payah untuk mengikuti protokol ternyata di lokasi, bahkan petugas setempat juga tidak mengingatkan. Walaupun ada banyak spot untuk cuci tangan, berdasarkan pengamatan saya juga nyaris tidak dipergunakan. Mungkin untuk kondisi new normal ini, pariwisata khususnya Gunung Luhur, belum siap dan tegas dalam menjalankan protokol ini.

Tetap jaga kesehatan, teman-teman!


13 Juli 2020

Mau Beli Tenda untuk Traveling? Sesuaikan Jenis dan Kebutuhannya

Berbagai macam tenda untuk traveling

Beli tenda untuk traveling merupakan kemewahan tersendiri buat traveler. Alih-alih harus menginap di tempat yang harganya mahal, tenda bisa jadi pilihan alternatif untuk bermalam dengan harga murah.

Tapi tahukah kamu ada berbagai macam jenis tenda yang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda? Tentunya untuk memilih tenda yang tepat harus pintar sesuaikan kegunaannya.

Berikut saya tampilkan kisaran harga tenda dan masing-masing kegunaannya yang harus kamu ketahui.

Tenda Dome (Kubah)

Tenda dome paling umum untuk kemah atau pendakian
Tenda Dome


Tenda ini adalah bentuk paling umum dipakai traveler, karena harganya murah dan juga praktis dibawa.

Umumnya dipakai untuk naik gunung oleh beberapa orang, dengan kapasitas 5-10 orang. Tergantung kebutuhannya.

Dibandingkan jenis tenda lainnya, tenda dome paling mudah dipasang.  Tapi mudah goyang jika terkena angin besar seperti kemah di pantai yang pernah saya lakukan di Malang (baca di sini).

Kisaran harga tenda dome, di merk-merk lokal bisa sekitaran 300-400 ribuan. Jika merk-merk besar, biasanya menyentuh 800-1jutaan.


Tenda Quick Pitch

Tenda Quick Pitch hampir mirip dengan Tenda Dome dan memiliki dua pintu
Tenda Quick Pitch (Sumber: Tokopedia)

Bentuknya hampir mirip dengan tenda dome. Tapi tenda ini lebih kuat, karena framenya saling terhubung satu sama lain.

Tenda ini lebih cocok untuk kamu yang doyan solo traveling. Sebab, kapasitasnya memang sedikit dan mudah dipasang sendiri. Selain itu tenda ini juga memiliki dua pintu yang dapat memudahkan akses masuknya.

Selain kapasitasnya yang sedikit, tenda ini ternyata lebih mahal daripada dome. Di merk-merk lokal sekitar 400-600 ribuan.

Tenda Vis A Vis (Tunnel)

Tenda Vis A Vis memiliki banyak ruangan yang bisa dipasang, bisa juga disebut tenda Tunnel
Tenda Vis A Vis atau Tunnel (Sumber: Tokopedia)

Buat yang suka kemah tapi ingin menjaga privasi, tenda ini sangat direkomendasikan. Di dalamnya memiliki 2 hingga 9 ruangan yang berhadap-hadapan.

Ruangannya juga cukup luas untuk menyimpan barang atau tidur berdua dengan pasangan. Cocok juga untuk kebutuhan kemah bersama keluarga.

Kekurangan dari tenda ini adalah cara pemasangannya rumit, apalagi jika pasang sendiri. Framenya harus sesuai agar seimbang.

Harga jenis tenda mulai dari yang bisa ditemukan di olshop sekitar 1 jutaan hingga 3 juta.

Tenda Bivak (Flysheet)

Tenda Bivak untuk tambahan tenda yang sudah ada, biasanya untuk pramuka
Tenda Bivak (Sumber: Phinemo)

Sering digunakan untuk survival di tengah hutan oleh militer dan pramuka, tenda ini sangat sederhana.

Harganya pun cukup murah, bahkan bisa disebut gratis. Membuat tenda ini bisa menggunakan kain tahan air seperti mantel hujan atau daun pisang. Jika kamu memiliki tenda ini pun lebih cocok sebagai kebutuhan tenda tambahan untuk menghalau cahaya matahari dan hujan.

Untuk tali dan pasak, kamu bisa menggunakan kayu dan tali Pramuka.

Kekurangannya, tenda ini memiliki waktu pemasangan yang lama dan harus memiliki keterampilan mengikat tali.


Tenda Pramuka (Ridge)

Tenda Pramuka (Ridge) sangat besar dan membutuhkan kerjasama tim
Tenda Pramuka (Sumber: Bukalapak)

Bagi yang pernah Pramuka pasti kenal dengan tenda ini. Tenda ini bisa menampung 20 hingga 30 orang.

Jenis enda ini cukup tinggi sehingga kamu bisa berdiri di dalamnya, bahkan bisa memasak di dalamnya dengan kompor kecil.

Kisaran harga tenda ini bisa dari 100 ribuan hingga 500 ribuan.

Kekurangannya adalah cara membangunnya itu sendiri. Tenda ini tidak bisa didirikan sendirian, membutuhkan kekompakan, dan keterampilan seperti tenda Bivak.

Tenda Kabin

Tenda kabin cocok untuk berkemah bersama keluarga
Tenda Kabin (Sumber: Aliexpress)

Sering dipakai oleh tim SAR saat ada bencana, tenda ini juga cocok untuk berkemah bersama keluarga. Tenda ini berukuran sampai 6x4 dengan frame pemasangannya yang sangat banyak.

Harga dari tenda ini berada di kisaran 2 juta hingga 3 jutaan. Jarang ditemukan di online shop di dalam negeri.

Kelebihannya dibandingkan tenda-tenda besar lainnya ialah memiliki jendela yang banyak dan ukurannya besar sehingga memungkinkan untuk berdiri.

Kekurangannya adalah mobilisasi pembawaannya tidak bisa untuk dibawa dengan tangan, harga yang mahal, dan pemasangannya yang lebih rumit.

Tenda Geodesi

Tenda Geodesi merk The North Face cocok untuk ekspedisi
Tenda Geodesi (Sumber: The North Face)

Memiliki desain yang aerodinamis, tenda ini memiliki struktur yang kuat saat ada badai.

Ruang di dalamnya memiliki tinggi hingga 6 kaki, cukup untuk berdiri di dalamnya. Desain aerodinamis ini juga akan membuat penghuninya nyaman karena tidak pengap.

Harganya berkisaran 1 jutaan di online shop. Tapi bisa menyentuh 3 jutaan bila membeli di gerai outdoor merk terkenal.

Tenda ini lebih cocok untuk mengadakan ekspedisi seperti di gunung yang memiliki cuaca buruk, atau penelitian. Bobotnya pun bisa mencapai 8 kilogram.


Tenda Inflatable

Tenda Inflatable mini dengan frame menggunakan udara
Tenda Inflatable versi mini (Sumber: Shopee)

Memiliki struktur berongga, tenda ini mengandalkan angin untuk bisa berdiri. Ruangan di dalamnya luas untuk 5-20an orang, tergantung kapasitas yang dibeli.

Kisaran harga mulai dari 2,5 juta hingga 4 juta di online shop.

Kekurangan dari tenda ini adalah mengharuskan kita untuk membawa alat pompa angin, dan bobotnya yang berat. Tidak cocok untuk kemah dengan jumlah orang yang sedikit.

Tenda Lonceng

Tenda Lonceng yang estetik berbahan dasar kanvas
Tenda Lonceng (Sumber: Aliexpress)

Seperti namanya, tenda ini berbentuk lonceng atau kerucut. Tenda ini sangat cocok untuk anak muda yang suka nuansa estetik.

Umumnya tenda ini berbahan kanvas untuk mengatur suhu di musim panas dengan warnanya yang cerah.


Pemasangan tenda ini sangat mudah, selain itu pasak utama dari tenda ini adalah tiang di dalam ruangannya. Ruangannya pun juga sangat lebar sehingga bisa digunakan banyak orang.

Sayangnya tenda ini tidak cocok untuk di tempat alam terbuka, di saat hujan pun air bisa merembes dan mengharuskan pemasangan terpal atau mantel hujan untuk menghindari kebocoran. Bobotnya pun cukup berat.

Harga tenda lonceng ini berkisar 5-7 jutaan di online shop.

Nah, bagaimana sudah kepikiran tenda apa yang mau dibeli? Saran saya, sebaiknya Anda membeli di online shop atau di brand-brand lokal saja, karena harganya yang terjangkau dan kualitasnya juga tidak kalah bagus dari brand ternama.

Ikuti kisah traveling lainnya di Instagram saya melalui highlight dan Instastory.