02 April 2020

Kara And Tina, Duniaku Menari di Luar

Kara dan Tina sore itu berpisah meninggalkan keluh kesah dari cinta yang penuh beda
Selamat sore hati
Kemaskan barang kali ini
Senandungnya "pindah berkala rumah ke rumah"1
Tapi hati, bukanlah urusan Disdukcapil.

Perkara Kara and Tina

[Ucap Kara, tadi sore]

Tina, bukankah wabah ini bagus untuk kamu?
Rasanya baru kemarin aku menikmati malam-malamku bersamamu
Malam di mana biasanya cahaya rembulan benderang dari bola matamu
yang kukira mungkin cinta kita terangkul pada relativitas waktu.

Tapi baru tadi sore, kamu berterus terang padaku
Dalam posisi terkunci di balik pintu ragu
ragu akan masa mendatang yang tak pernah setuju adanya kita

Aku lihat rembulan itu mencair, di matamu saat berucap tak berpisah
Ia menghanyutkan energi cinta tersisa dari dermaga hati yang tak lagi kuat.

Tina, pacarku, yang kini menjadi mantanku.
Aku rindu saat tanganku menjadi cincin, dan kau adalah Saturnusnya.
Indah rasanya dinikmati, bersama gemerlap malam dengan gugusan bintang di dinding semesta.

Benar katamu, Tina. Aku mampus dikoyak cinta beda agama2
Aku hanya orang gila yang hidup dalam gagasanku sendiri.
Berharap bisa berujung indah, walau akhirnya harus berpisah1.
Padahal, Tina, bagiku cinta yang indah adalah cinta yang benar-benar berbeda latarnya
Tapi lakonnya, harus kita samakan, serumit apapun konflik itu.

Baiklah, Tina. Jika kau ingin berpisah
Kurelakan cinta yang tidak abadi seperti mimpi. Biarlah segalanya berlalu dan selalu berlalu seperti peristiwa apa pun yang akan selalu berlalu3.

Tapi jika terus terang Tina, aku akan mencintaimu
Kadang aku menyesali wabah ini.
Ia tidak hanya bisa menginfeksi paru-paru, tapi menyakiti hatiku.

Dia mengantarkan demam pada pikiranmu, kemudian berinang pada keputusanmu
dan kata-katamu sore ini, bukan lain bak palu gadam yang meretakkan langit hingga pecah berkeping-keping.

[Duniaku, Menari di Luar]
...
Aku merindukan dunia luar.

yang sedang menari di antara semilir angin yang menguntai dedaunan di lantai dansa alam.

yang sedang menari dihadapan air yang mudik membawa parsel lebarannya ke kampung halamannya yang asin.

yang sedang berjingkat pada tali pikiran yang dapat mengawang-awang bagai arwah terlepas dari jasadnya.

yang sedang berekspresi bebas di jagat tak terbatas.

yang biasanya menghentakan hati untuk menemukan dia yang kini hanya bisa berpesan rindu.

esok, cobalah kau baca lagi prasasti ini bila ku punah.
Sebuah pesan untuk peradaban berikutnya.

Duniaku, Balerinaku, teruslah menari di atas poros evolusi. Karena keindahanmu, akan dinikmati silih berganti rantai seleksi.
Detik ini, genusku harus pergi, dari restu bumi yang tak pernah dicintai

[Kata Tina, malam ini]

Bagaimana kasih?
Bukankah lebih nikmat bersandar di pundakku daripada idealismemu?

Aku juga menderita, Kara.
Deritaku. Dirahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu4.

Aku menderita, kenapa cinta harus dibataskan pada satu kecocokan hakikat akidah
Sedangkan cinta adalah pembebasan yang semestinya indah.
Mami-papiku membencimu, papa-mamamu tak merestuiku.
Apa lagi yang kau harapkan?
Sudahlah, Kara. Aku bukan perempuan yang sempurna, kau tak akan sanggup dengan kecacatanku
dimana ada luka tambal yang bocor yang keluar dari nadiku

Aku mencintaimu dengan sederhana, Kara5.
Cinta kita memang megah bila kita syukuri.
Tapi mulai subuh nant, ikhlaskan saja embun-embun dari pelopak mata ini.
Jangan sembab
Ada yang yang lebih pantas daripada sekedar fatamorgana cinta yang tak sepadan ini.

***

[1] Hindia, "Rumah ke rumah", 2019
[2] Chairil Anwar, "Sia-sia", 1943 (dengan ubahan)
[3] Seno Gumira Ajidarma, "Sepotong senja untuk pacarku", 2002
[4] Sapardi Djoko Damono, "Hujan bulan juni", 1989
[5] Sapardi Djoko Damono, "Aku ingin", 1989