26 Juli 2019

VIVOBOOK ULTRA A412DA, LAPTOP CANTIK BARU UNTUK TRAVELING

Saya sedang jongkok ditengah ruangan berusaha memasukan laptop lama saya, tapi tidak muat, dan memikirkan ada laptop VivoBook Ultra A412DA dengan tulisan di sekitarnya "Saatnya Ganti Pacar Dengan Yang Pas Di Hati Dan Bisa Diajak Traveling!"

Suka risih enggak sih, kalau traveling harus bawa laptop berat-berat? Padahal berguna untuk menyimpan foto, video, dan data, travelingmu. Alih-alih ingin instagramable, adanya repot sendiri. Seperti foto saya di postingan sebelumnya. Nah, kamu sepertinya butuh laptop baru yang cantik nan mudah untuk dibawa traveling yakni Asus VivoBook Ultra A412DA. Ringan, mudah dibawa, dan bagus kualitasnya untuk kamu yang suka jalan-jalan cantik.


Laptop Asus VivoBook Ultra A412DA adalah laptop paling ringkas di kelasnya terutama dari sisi hardware, software, dan memory yang dimilikinya. Kira-kira ada apa saja sih di laptop ini? Mari kita ulas.


Hardware laptop yang cocok dan cantik untuk traveler

Ukuran VivoBook Ultra A412DA yang muat dengan tas kecil untuk jalan-jalan.

Dari sisi hardware jika traveling menggunakan carrier atau tas ransel biasa, laptop ini bisa dibawa dengan mudah tanpa memakan ruang banyak dan tidak berat. Laptop Asus VivoBook Ultra A412DA ini memiliki ketipisan hanya 5.77 mm dan beratnya cuma 1.5 kg. Jadi keberatan atau tidak muat lagi kapasitas di tas karena laptop sudah bukan jadi keluhan lagi, deh.

Ruang penyimpanan dan keamanan di laptop cantik ini bisa menyimpan banyak sekali data traveling dengan aman. Storage atau penyimpanannya bisa sampai 1 TB HDD + 512 GB SDD, jumlah yang cukup besar untuk menyimpan vlog, data mentah video dan foto traveling, hingga aplikasi-aplikasi pelengkap kegiatan travelingmu.

Jangan khawatir dengan kemanannya yang terjaga dengan fitur finger print dari Windows Hello agar tidak dibajak orang yang iseng dengan laptopmu. Fitur-fitur finger print ini juga mempercepat login laptop ke sistem operasi.


Di VivoBook Ultra A421AD laptop ini sudah tersedia fitur Windows Hello untuk melindungi privasi pengguna dengan finger print, pin, hingga pendeteksi wajah

Terus kenapa dibilang cantik? Karena dari segi tampilan, laptop ini bisa dikatakan sebagai “The World’s Smallest 14 inch Colorful Notebook”. Alasannya, selain kecil dan memiliki layar lebar laptop ini memiliki case berbagai warna yang lucu sampai elegan.

Ada warna merah, biru, hitam, dan putih. Tentunya kalau pakai laptop ini, traveler bakal kelihatan eyecatch atau anak highstyle banget deh.


VivoBook Ultra A412DA memiliki warna yang beragam dan cantik, dari putih, hitam, merah, dan biru.


Software dan memory laptop yang bikin traveler puas



Laptop Asus VivoBook Ultra A412DA yang asli, pasti dipasang dengan operasi sistem Windows 10 yang asli. Kamu bisa mengetahuinya dengan membuka CMD pada Windows dan menulis "slmgr/xpr" kemudian enter. Kepastian aslinya adalah jika hasil CMDnya adalah “The Machine is Permanently Actived”. Tentunya dengan OS Windows asli, kamu akan mendapatkan update Windows 10 yang mudah, gratis, dan aman.

Prosesor laptop ini benar-benar bikin puas kamu yang suka mengedit video dan foto, desain, merancang coding blog, bahkan main game saat gabut. Prosesor laptop VivoBook yang satu ini menggunakan AMD Ryzen 3, Ryzen 5, hingga Ryzen 7! Bayangkan, dengan RAM yang bisa sampai 16 GB dengan prosesor Ryzen, buka aplikasi editing video, foto, hingga game pasti tidak ngelag karena kencang sekali progres laptopnya.

VivoBook Ultra A412DA dengan AMD Ryzen yang terbaru, dan mampu 1080 FHD. Prosesornya berwarna merah, dan dibawahnya ada stiker warna kuning bertuliskan "FHD 1080"
Sumber: DK ID

✔Mau edit video jalan-jalanmu di Pemiere dan After Effect? Bisa selesai dengan lancar dan kencang tanpa hambatan.
✔Desain gambar buat banner blog atau kanal YouTube dengan Corel Draw, tentu proses ekspornya langsung jadi sebelum mengedipkan mata.
✔Edit foto di Light Room dengan banyak-banyak preset. Jelas bisa.
✔Main game Dota 2? Tidak ada masalah sama sekali.

RAM yang kuat, harus diiringi dengan prosesor kuat seperti AMD Ryzen 3000 Series seperti Asus VivoBook Ultra A412DA ini.

***

Jadi bagaimana, kamu mau traveling sambil menyimpan cerita dengan mudah di laptop dan efisien? Cobain aja laptop VivoBook Ultra ini, siapa tahu jadi influencer travel.


19 Juli 2019

DO'S AND DON'TS SAAT BERKUNJUNG KE THAILAND

DO'S AND DON'TS  SAAT BERKUNJUNG KE THAILAND

Thailand memiliki banyak destinasi wisata dan budaya yang harus kamu kunjungi, dari candi hingga wisata alam. Tapi ada beberapa etika yang harus kamu jaga ketika traveling ke Thailand, karena ada beberapa norma, etika, etiket, dan moral yang berlaku sebagai salah satu negara beragama Buddha terbesar di dunia. Saya merangkumnya dalam Do's and Don'ts yang harus diperhatikan saat kamu berkunjung ke Thailand.

Pelajaran berharga ini saya dapatkan dari pengalaman pribadi ketika backpackeran ke Thailand, terutama ketika asik mengobrol dengan pelayan hotel yang ramah di Pak Chong, Mae Phi Nam Nae.

Do's

1. Bila naik Tuk Tuk dan Songthaew tawarlah harganya.

Walaupun Tuk Tuk dan Songthaew adalah transportasi umum yang lebih murah daripada taxi online dan taxi konvensional, harga yang mereka berikan kepada kita bukanlah harga pas untuk menggunakan jasanya. Beberapa di antaranya mungkin mendongkrak harga. Jika kamu low budget traveler, tawarlah setegas mungkin.

Perhatikan dilema bahasa Inggris dalam teen (belasan) dan ty (puluhan). Beberapa diantaranya bisa menjebak. Saran saya kamu bisa menggunakan jebakan ini dalam tawar-menawar dengan mereka.

Contoh kasus nyata: Saat naik Tuk Tuk di Bangkok, saya ditembak harga 150 (one hundred fifty) Baht. Kemudian tawarlah menjadi 114 (one hundred fourteen) Baht, mereka akan mengira bahwa kamu hanya menurunkan harga 10 Baht (140 one hundred fourty Baht) bila kamu bisa memlesetkan penyebutannya, dan pengemudi akan deal. Agak kejam memang, tapi saya pernah dijebak dengan taktik ini juga saat naik Tuk Tuk di Pak Chong. Saat sampai ditujuan, bayarlah 114 Baht, dan kamu dengan tegas bahwa kamu mengatakan sejak tawar-menawar memang 114 (one hundreed fourteen) Baht bukan 140 (one hundred fourty) Baht.

2. Nego

Kemudian terutama yang menggunakan Tuk Tuk, setegas mungkin dalam nego tujuan tempat. Agar tidak dibawa keliling ke tempat-tempat yang tidak jelas. Traveler yang menumpang tanpa bernegosiasi biasanya akan dibawa ke tempat saudara mereka yang menjualkan merchandise dan bisa jadi kamu dipaksa membelinya.

3. Jaga sopan santun, hindari pertanyaan yang menyinggung

Sejauh manapun tempat yang kamu kunjung, jagalah akhlakmu agar bisa diterima. Sopan santun Thailand hampir sama di Indonesia yang murah senyum. Saat 'permisi' alangkah baiknya seperti melakukan 'permisi' di Indonesia, dengan cara menunduk, taruh tangan di bawah hampir menyentuh tanah. Perilaku 'permisi' ini akan dianggap terlalu sopan, tapi itu cukup bagus untuk menjaga citra kesopananmu.

Hindari pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung jika bertemu dengan warga setempat. Seperti aturan agama, atau hubungan orang. Tidak sopan, karena itu privasi dan rawan perasaan yang menyinggung.

4. Hormatilah keluarga kerajaan

Keluarga kerajaan itu sakral, sebagaimana orang Jogja menghormati sultan mereka. Jika keluarga kerajaan lewat, lakukanlah penghormatan seperti masyarakat Thailand lainnya lakukan. Jangan pernah menyinggung, merendahkan, atau melecehkan mereka. Akan menjadi permasalahan rumit yang bisa membuatmu terbuang dari sosial di Thailand.

Saya tahu, mungkin karena banyak foto-foto raja mereka dimana-mana dengan ukuran besar dan perhiasan mewah untuk bingkai atau sekitarnya. Mungkin kamu tidak setuju dengan hal ini. Tapi jika dilihat-lihat, Indonesia juga seperti itu, terutama di Jogja terhadap sultannya dan Indonesia secara umum pada era Sukarno.

5. Makanlah makanan Thailand

Makanan di Thailand seperti di Indonesia, murah, enak, dan hampir sama. Walaupun ada sedikit berbeda rasanya. Cobalah makan Tom Yum, Pad Thai, Nasi Goreng Thailand, dan sebagainya. Harganya sangat ekonomis dan bisa ditemukan dimana-mana.

6. Lepaslah sendal saat masuk bangunan

Beberapa bangunan seperti rumah (jika kamu menggunakan Airbnb untuk menginap) dan hotel harus melepaskan alas kaki seperti sendal dan sepatu saat masuk. Seperti Indonesia, di dalam ruangan harus bertelanjang kaki.

Don'ts

1. Jangan membeli patung Buddha dan kaos bergambar Buddha

Buddha adalah agama nasional Thailand yang amat dihormati. Meskipun patung dan kaos bergambar Buddha dijual oleh warganya, pemerintah Thailand memiliki pandangan negatif terhadap jual-beli barang berbau agama ini, bahkan kamu bisa dipersulit oleh bagian Bea Cukai. Ibaratnya seperti menjual-beli agama. Jadi saya sarankan JANGAN MEMBELI.

2. Jangan memotret kegiatan tentara dan kepolisian

Kamu bisa dikira mata-mata atau intelijen asing. Kamu akan memiliki urusan panjang dengan ini. Sebaiknya hindari.

3. Jangan menggunakan pakaian terbuka saat berkunjung ke tempat religi.

Tanktop, bikini, dan pakaian terbuka lainnya sangat dilarang saat memasuki tempat religi seperti Candi. Gunakanlah kaos, dan pakaian yang menutup dada. Agama Buddha sangat dihormati di sini, kamu akan dianggap menistakan agama Buddha jika kamu menggunakan pakaian terbuka saat berkunjung.

4. Jangan menunjuk

Sangat penting bagi traveler dari manapun, dari Indonesia maupun Barat yang berkunjung ke Thailand adalah jangan menunjuk sesuatu dengan telunjuk ketika menginginkan sesuatu. Itu adalah tindakan yang tidak sopan. Gunakan keempat jarimu ingin menunjuk sesuatu, atau bisa gunakan jari jempol dengan jari-jari lainnya tertelungkup.

13 Juli 2019

INDONESIA TIMUR DALAM STEREOTIP MEDIA FILM

INDONESIA TIMUR DALAM STEREOTIP MEDIA FILM

Indonesia timur sering digambarkan dengan bentang alamnya yang sangat indah. Beberapa film menyoroti landmark yang tergambar sebagai tempat wisata yang harus dikunjungi. Tidak ayal, penonton film-film ini umumnya berasal dari daerah Jawa atau daerah-daerah Indonesia lainnya, yang memiliki privilege. Akibatnya tayangan-tayangan ini membujuk penontonnya untuk datang ke Indonesia timur.

Indonesia timur menurut website resmi media Indonesia Timur (indonesiatimur.com) ialah kawasan provinsi-provinsi di sebelah timur Republik Indonesia ini, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Sedangkan menurut Jules Dumont d’Urville (1832) bahwa Melanesia adalah kelompok etnis yang tinggal di pulau-pulau samudera Pasifik, dari Maluku hingga Samoa.

Namun Industri hiburan ternyata cenderung merepresentasikan dan memberikan stereotip mengenai kehadiran orang-orang timur dalam beberapa adegan dengan tanda-tanda, peran tokoh, frame gambar, dan dialog. Tentunya film sebagai media memiliki bias terhadap bentuk, konten, dan penggunaan komunikasi tertentu (McQuail, 2012).

Denias, Senandung di Atas Awan

Denias Senandung di Atas Awan

Berkaca dari film Denias, Senandung di Atas Awan (2006). Film bertema pendidikan ini berlatar belakang di Papua. Berkisahkan tentang seorang anak dari suku pedalaman Papua yang memiliki semangat sekolah pasca ibunya meninggal.

Pak Guru (Mathias Muchus) dalam film ini adalah tokoh yang diagung-agungkan oleh Denias (Albert Fakdawer) dan teman-temannya. Alasannya karena ia adalah tokoh yang bijaksana, guru, dan menjadi suri teladan. Setelah Denias kehilangan Pak Guru karena harus ke Pulau Jawa, Denias dan kawan-kawan diajari oleh seorang tentara yang disebut Maleo (Ari Sihasale), tapi tidak berlangsung lama, hingga akhirnya Denias harus ke kota dan berusaha bisa belajar di sekolah dengan bantuan seorang guru non etnis Papua, Ibu Sam (Marcella Zalianty).

Pola film Denias, mirip dengan narasi White Savior yang terjadi pada film-film barat. Di mana suatu etnis adalah keterbelakangan, dan etnis lain datang membawa ‘kebenaran’ untuk ‘memajukan’ etnis lain (Meeta Jha, 2016). Film seringkali digerakan oleh kiasan tersebut dapat menggunakan genre tertentu, entah cerita tentang seorang guru asing di sekolah urban atau seorang koboi sendirian di tanah yang eksotis (Hughey, 2014). Dalam konteks film ini, orang Papua dianggap kurang berpendidikan daripada orang dari Jawa.

Setelah Denias mendapatkan sekolah di kota, ia bertemu Angel (Pevita Pearce). Denias tertarik dengan Angel. Adegan pertemuan Denias dengan Angel ini pun disajikan dengan cantiknya orang non-Papua seperti Angel. Memberikan konsep male-gaze bahwa wanita cantik, ialah berkulit putih dan berambut lurus. Pengambilan gambarnya pun dibentuk sedemikian rupa, seperti Close Up dan Extreeme Close Up untuk menggambarkan kecantikannya. Adegan ini memberi kias, bahwa orang berkulit cerah pasti cantik, dan orang berkulit gelap terutama dari Papua tidak begitu menarik.

Susah Sinyal

Susah Sinyal

Film komedi drama yang diproduseri dan disutradarai oleh Ernest Prakasa ini memiliki konsultan komedi seorang komedian etnis Indonesia timur, Arie Kriting, tujuannya bisa jadi agar jokes yang disajikan tidak menyinggung suatu etnis, terutama tentang etnis timur.

Namun dalam adegan film itu sendiri menggambarkan representasi perbedaan yang ada. Kiara (Aurora Ribero) yang berlibur ke Sumba bersama ibunya, Ellen adalah seorang influencer digital. Ia mengeluhkan di Sumba tidak ada sinyal, hotel tak berAC, dan aliran listrik yang hanya menyala selama 12 jam. Tapi Tante Maya (Asri Welas) pemilik penginapan berdalih kalau penginapan ini bernuansa etnik, menyatu dengan alam. Tapi Kiara memandang tema etnik tersebut seperti sesuatu yang aneh, culture shock.

Film Susah Sinyal (2017) juga merepresentasikan ketimpangan sosial-ekonomi yang dimiliki orang Sumba dalam beberapa adegan. Misalnya, Ellen sering kali memberi uang tips dan reward kepada pengurus penginapan yaitu Yos (Abdur Arsyad), Melky (Arie Kriting), dan Ebi (Refal Hady). Adegan tersebut merepresentasikan bahwa orang Sumba adalah miskin dan mata duitan. Penokohan dalam film ini juga sarat akan representasi bahwa orang Sumba masih ‘bodoh’ dalam ekonomi. Bisa dilihat Tante Maya adalah pemilik penginapan, ia berasal dari Jawa, sedangkan pegawai-pegawainya orang-orang lokal Sumba. Dengan adanya usaha penginapan Tante Maya, menjadi lapangan pekerjaan bagi orang lokal untuk berpenghasilan, melalui cara bisnis dan dipimpin oleh orang non-Sumba.

Representasi Budaya


Representasi budaya sering dibuat dengan sengaja atau tidak sengaja dalam film. Film-film tersebut jelas bergenre keluarga dan mengincar anak-anak. Penyampaian makna dalam representasi yang dipaparkan secara tidak langsung mendogmatisasi anak-anak menilai etnis orang Indonesia timur. Melalui film, khalayak memperoleh informasi mengenai realitas yang terjadi di sekitar. Representasi dalam media adalah cermin realitas dan refleksi, atau biasa disebut media sebagai konstruksi realitas (Eriyanto, 2009).

Tentu akibat dari konstruksi yang dibuat media visual dapat mempengaruhi khalayaknya. Dengan adegan-adegan, pengambilan gambar, dialog, hingga tanda-tanda lainnya, bisa membuat bagaimana penonton media membuat stereotip terhadap suatu etnis. Sehingga yang diketahui khalayak tentang suatu realita disekitarnya tergantung dengan bagaimana film menggambarkannya (Eriyanto 2009).

Penggambaran dalam dua film tersebut, cenderung menggambarkan etnis timur masih primitif dan muncul dari dari pemikiran kita sendiri dan cenderung menghakimi suatu golongan etnis.
Produksi film semestinya perlu melakukan perbaikan dalam produksi cerita. Hal-hal yang harus dihindari oleh produksi film harusnya menghindari stereotip yang mempengaruhi ideologi mengenai suatu etnis. Apa yang dilakukan Ernest Prakasa pada film Susah Sinyal sudah sepatutnya ditiru dalam membuat film komedi, adanya konsultasi komedi agar tidak menyinggung. Perlu dipahami dalam adegan bagian mana yang harus diperhatikan agar terhindar dari tanda-tanda yang mempengaruhi pikiran penontonnya.

Untuk menghindari imej ketimpangan sosial-ekonomi, sebagai kontrol masyarakat media harus bisa memilah tentang modernisasi dalam budaya dan etnis. Mana yang suatu kekayaan, dan mana yang perlu dimodernisasikan untuk menghindari stereotip ekstrim.

“Kita itu menggebukan sekali modernisasi semua hal. Kita tidak melihat mana yang sebenarnya kekayaan kita, sehingga ciri khas kita terkadang malah menjadi ketertinggalan” -Arie Kriting

Referensi

10 Juli 2019

BYE MATA KERING, TRAVELING NYAMAN DENGAN INSTO DRY EYES

BYE MATA KERING, TRAVELING NYAMAN DENGAN INSTO DRY EYES

Kegiatan traveling dengan backpackeran sering membawa kita harus menaiki transportasi umum yang kadang memberikan masalah kesehatan mata. Mulai dari hitch-hike dengan mobil orang, mobil pick-up, dan truk yang memiliki emisi polusi tinggi, hingga AC kabin pesawat yang dingin sehingga membuat mata jadi kering. Maka setiap backpackeran untuk mengantisipasi mata kering, saya pastinya menyiapkan Insto Dry Eyes untuk menemani backpackeran saya.

Lantas bagaimana sih penyebab gejala mata kering saat traveling? Here is it!


Mata Sepet


Buat seorang traveler menatap layar ponsel atau layar kamera menyebabkan mata sepet. Bayangkan, setiap foto-foto dengan kamera harus melihat layar display secara berulang untuk memastikan foto kita sudah bagus atau tidak. Kegiatan ini membuat sepet mata karena harus konsentrasi antara pemandangan alam dan layar kamera secara berturut.

Nah, rasa sepet itulah yang membuat mata kita menjadi kering. Gejala ini lama kelamaan bisa membuat matamu kering, lho!

Mata Pegal

BYE MATA KERING, TRAVELING NYAMAN DENGAN INSTO DRY EYES

Sebagai travel blogger, sering membuat konten artikel blog memang sudah jadi hobi hingga kewajiban. Umumnya, travel blogger menuliskan artikel dan kisah perjalanannya melalui laptop. Bayangkan berapa lama seorang menlis blog? Bisa lebih dari 1 jam untuk berhadapan dengan layar laptop. Tentunya lama-lama mata seorang blogger akan merasa pegal.

Selain itu buat yang suka memotret dengan kamera, terutama kamera manual yang tidak ada tombol live view di layarnya, juga bisa membuat mata jadi pegal. Seorang fotografer blogger, maupun jurnalis seperti saya harus melihat segala sesuatu dari view finder kamera, memastikannya sudah bagus atau proposional sebagai foto, dan mengulanginya jika foto tersebut jelek. Menggunakan view finder dengan menutup mata sebelah tentu bikin mata pegal bukan main sehingga membuat mata lelah dan mengering.

Mata Perih

Traveling naik transportasi umum memang menyenangkan, tapi cukup menyiksa mata. Saat traveling atau backpackeran transportasi yang pasti dinaiki adalah bus, kereta api, dan pesawat. Transportasi umum biasanya memiliki kabin atau tempat penumpang yang berAC sehingga membuat mata kita kering. Sebelum kering, mata kita akan terasa perih karena terkena hembusan AC ini.

Tidak hanya di kendaraan berAC, kendaraan non-AC seperti bus Kopaja, atau saat hitch-hike juga bikin mata perih. Angin semilir atau asap rokok bisa bikin mata perih dan menjadi kering. Jadi memang traveling itu harus berhadapan dengan situasi seperti ini.

Tentu mata perih inilah rasa yang ditimbulkan saat matamu kering.

***

Semua gejala-gejala mata kering yang saya sebutkan di atas, bisa diatasi dengan Insto Dry Eyes yang memang dibuat untuk mengobati mata keringmu saat traveling. Tapi mencegah lebih baik daripada mengobati, sebaiknya kamu ikuti tips dibawah ini supaya saat traveling matamu tidak kering.
  • Membawa Kacamata
Selain membuatmu bergaya, kacamata membantumu untuk menghalau angin yang bisa menerpa matamu hingga menjadikan mata kamu pedih, sepet, dan kering. Apalagi jika menggunakan kacamata hitam, akan membantu dari rasa pegal saat silau menusuk mata, atau melihat display layar kamera saat berswafoto.
  • Olahraga mata
Kegiatan ini bermanfaat untuk melatih mata pegal supaya terbiasa dengan kontraksi otot. Kegiatan ini juga bisa mengobati mata miopi agar pengelihatan makin jernih. Olahraga mata juga mampu membantu memperlancar peredaran air mata agar mudah membasahi mata yang cepat kering.
  • Gunakan mode aman untuk mata
Pada gadget yang kamu miliki, beberapa aplikasi sudah memiliki fitur yang ramah untuk mata. Fitur seperti mode malam atau penurunan intensitas cahaya otomatis bisa kamu terapkan di gawaimu agar tidak terjadi mata lelah, pegal, perih, dan kering.
  • Bawa Insto Dry Eyes
Kita tidak tahu ada serangan luar yang mengancam mata menjadi kering. Sebagai senjata andalanmu, kamu harus antisipasi dengan membawa Insto Dry Eyes untuk pertolongan pertama saat mata kering.

Pengalaman Mata Kering saat ke NTT

BYE MATA KERING, TRAVELING NYAMAN DENGAN INSTO DRY EYES

Pengalaman saya mengalami mata kering biasanya terjadi ketika berada di ketinggian, seperti di Danau Kelimutu, Flores, NTT. Perjalanan ini menjadi pengalaman pertama saya mengenal Insto Dry Eyes sebagai penanggulangan masalah saya.

Perjalanan dari Ende menuju Taman Nasional Kelimutu bersama 3 orang teman saya, Kicay, Yoman dan Jedimemang melelahkan jika menggunakan motor, dan harus berhadapan dengan angin subuh yang dingin dan kencang. Walhasil mata saya jadi kering dengan rasa perih, dan sepet yang menyebalkan, untung bukan saya yang menyetir motor tapi Jedi.

Saat sampai di pos SIMAKSI saya mengucek-ucek mata saya, tapi teman saya, Jedi berkata. "Jangan dikucek kalau mata kering. Kalau ada debu bisa bikin iritasi. Enggak ada air mata yang bisa melumas debu-debu tersebut".

Saya bergumam "Hmmm... benar juga"

Kemudian, Jedi mengeluarkan sesuatu dari tas pinggang kecilnya, yaitu Insto Dry Eyes. "Mending pakai ini aja", sodornya.

Saya pun mengiyakan dan menggunakannya. Syukurnya, mata saya lebih plong! Lebih segar untuk menatap pemandangan Kelimutu di subuh hari yang berselimut kabut dan angin pagi yang seolah ditangkis dengan Insto Dry Eyes yang menjadi tameng mata saya.

Terus, kenapa harus pakai Insto Dry Eyes?

BYE MATA KERING, TRAVELING NYAMAN DENGAN INSTO DRY EYES

Mengandung Hydroxypropyl methylcellulose yang diindikasikan untuk perawatan air mata buatan. Manfaatnya tentu menyegarkan mata, selain itu bisa untuk perawatan Keratis (mata merah, penurunan pengelihatan, pengelihatan kabur, dan sensitivitas cahaya) dan penurunan sensitivitas kornea (Sumber: TabletWise)

Mudah ditemukan di semua mini market, dan toko kelontong. Kamu tidak perlu memesannya dari toko online karena ada di mana-mana.

Jadi jangan lupa bawa Insto Dry Eyesya kemana-mana!

08 Juli 2019

MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)

Sambungan dari: Menggembel di Thailand, Part 2: Pak Chong

Usai sudah urusan belanja jastip di Bangkok, kami melanjutkan perjalanan menuju Pattaya dengan bus dari terminal Mo Chit. Dengan harga 128 Baht, dan estimasi perjalanan 2 jam. Bus ini berbeda dari Bangkok ke Pak Chong, walaupun petugasnya bisa berbahasa Inggris tapi tidak mendapatkan fasilitas minuman dan makanan ringan seperti bus menuju Pak Chong.

MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)

Bus ini berhenti di Roong Reuang Pattaya, sebuah terminal yang umum digunakan untuk ke dan dari Bangkok untuk menuju terminal Mo Chit maupun Ekkamai. Terminal di sini pun lebih terjaga dengan fasilitas toilet umum yang jelas, area merokok, dan tempat tunggu yang nyaman. Banyak Songthaew dan taksi yang bertebaran di sekitar sini yang siap menjemput wisatawan yang datang ke Pattaya dengan bus dari Bangkok.

Penginapan dan Transportasi


Penginapan kami bernama Sawasdee Sunshine, sebuah hotel yang lebih mewah daripada penginapan-penginapan sebelumnya. Karena sempat memenangkan lomba dari Tiket.com, dan mendapatkan voucher 1 juta, jadilah saya gunakan untuk memesan penginapan ini selama beberapa hari untuk mengeksplorasi Pattaya dan hanya membayar Rp29 ribu saja.

Baca Juga: Gili Trawangan Pulau yang Cocok untuk 'Mati' Kesamber Gledeknya Tiket.com

Untuk menuju penginapan dari Terminal Roong Reuang, biar lebih murah bisa menggunakan Songthaew. Songthaew seperti angkot dengan harga 50 Baht dari terminal pasti di antar sampai penginapan dengan jalur tertentu untuk menurunkan penumpang lainnya. Jika kamu tidak tahu nama lokasinya, kamu bisa naik Songthaew dan turun di sembarang tempat dengan tombol bel yang sudah tersedia di setiap sudut tempat penumpang Songthaew.

MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)

Sesudah sampai penginapan, kami harus check in dan membayar deposit 500 Baht. Jangan khawatir deposit 500 Baht itu akan dikembalikan saat check out. Enaknya di Sawasdee Sunshine, saat check in kamu diberikan sirup mangga sebagai ucapan selamat datangnya.

Pattaya di Malam Hari

Pada malam hari kedua saya tiba di Pattaya, saya mencoba berkeliling sekitar pantai Pattaya dan menuju selatan. Di malam hari, sekitaran pantai Pattaya banyak sekali wanita penghibur yang biasanya jadi langganan para turis, harganya sekitar 1000 Baht ke atas. Sedikit sekali yang menongkrong-nongkrong di pantai, karena tidak seperti siang hari yang menyediakan bangku untuk bersantai. Malam hari pantai Pattaya benar-benar tidak ada apa-apanya.

MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)

Semakin selatan, kamu akan masuk ke Walking Street, tempat yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki. Walaupun jalanannya lebih luas daripada Khaosan Road, di sini tidak ada pula yang mendirikan kios tenda di bahu jalan, semua berjualan di gedung. Sepanjang jalanWalking Street banyak club malam dengan nuansa Thailand, India, dan Russia, banyak pula tempat-tempat hiburan malam seperti striptease untuk saweran atau biasa disebut Agogo. Di Walking Street ini menghubungkan pantai Pattaya menuju pelabuhan Pattaya untuk bisa ke Koh Larn.

Ada juga Night Bazaar Market yang berisi barang-barang murah di jalan menuju utara (karena jalan di Pattaya one-way)

Koh Larn (Pulau Larn)

MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)

Pada hari berikutnya, saya gunakan untuk berjalan ke Koh Larn bersama adik saya menggunakan trip yang sudah saya pesan jauh-jauh hari dengan Klook. Dengan Klook semua harga-harga trip menjadi lebih murah dan ada fasilitas antar-jemputnya dari dan ke penginapan. Untuk harga pastinya saya tidak bisa menjamin karena tergantung harga tukar Baht-Rupiah, tapi dengan Klook kamu juga bisa atur mata uangnya. Waktu itu saya sekitar 350an ribu rupiah.

Kami di jemput di penginapan pukul 8.50 pagi dengan Songthaew yang kemudian berkeliling untuk menjemput peserta trip lainnya. Setelah terkumpul, kemudian diantarkanlah kami ke pelabuhan. Mayoritas dari peserta trip yang kami ikuti berasal dari Asia Timur seperti Korea, Taiwan, dan Tiongkok.
MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)
Dengan trip ini kamu juga bisa parasailing dengan aman lho!

Trip kami include makan siang, island hoping, speed boat, dan snorkeling. Untuk snorkling, di Koh Larn menggunakan perahu besar yang tersedia prosotan dan trampolin. Ada banyak gabus-gabus dan balon-balon besar yang membuatnya laut seperti waterboom.

MENGGEMBEL DI THAILAND 3 (PATTAYA-DON MEUANG)

Kritik saya, hasil dokumentasi trip ini pecah fotonya. Mungkin karena orang Thailand sering menggunakan Line yang menaruh foto, karena Line sering sekali membuat foto yang sudah diunggah jadi pecah. Jadi wajar saja jika hasil fotonya seperti ini.

Wisata Pattaya


Tidak hanya Koh Larn, ada banyak wisata budaya dan buatan yang bisa dipesan melalui Klook. Sayangnya saya tak berkunjung ke sana. Ada tempat-tempat seperti Sanctuary of Truth, Float Market, Koh Pai, Cartoon Network Amazone, dan Pattaya Night Bazaar.

Balik ke Bangkok dan menuju Don Meuang


Usai berkeliling Pattaya, kami bergegas untuk pulang ke Bangkok. Setelah check out dan mengambil deposit, kami naik Songthaew dengan harga 10 Baht/orang menuju Terminal 21 Pattaya, sebuah mall di bundaran, kemudian dilanjutkan dengan Songthaew ke Roong Reuang Pattaya Terminal seharga 10 Baht/orang.

Setiap 30 menit pasti ada bus ke Bangkok tujuan Ekkamai maupun Mo Chit, sesuai dengan peronnya. Dengan harga 128 Baht, 2 jam perjalanan, kami sampai di Mo Chit Bangkok.

Bandara Don Meuang
Kami tiba di Mo Chit jam 8 malam, sedangkan penerbangan saya ke Jakarta jam 12 siang esok hari. Karena Mo Chit tutup sampai jam 11, dari Mo Chit kami langsung menaiki bus kota yang menuju Chatuchak Park dengan harga 8 Baht/orang. Jangan lupa bertanya-tanya pada petugasnya, petugas di sana bisa bahasa Inggris dan mau menolong wisatawan. Setelah turun di Chatuchak Park, kami naik shuttle bus nomor A1 dengan harga 8 Baht/orang juga untuk sampai terminal 1 internasional Bandara Don Meuang. Kami menginap di bandara dengan gratis. Esoknya, kami pulang ke Jakarta dengan gagah berani.

***


Jadi begitulah kawan-kawan petualangan menggembel saya sampai Pattaya hingga mendapatkan akomodasi yang bagus untuk menginap dan transportasi untuk pulang. Jika ada saran dan masukan untuk hemat, atau tempat wisata-wisata sekitar Pattaya, silahkan komentar.

Selamat liburan!
#KarenaLiburanAdalahHakSegalaKelas

03 Juli 2019

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

(Sambungan dari: Menggembel di Thailand, Part 1: Bangkok)


Pagi yang cerah untuk melanjutkan perjalanan ke Pak Chong supaya bisa berkunjung ke Khao Yai National Park. Dari Penginapan kami langsung naik BTS dari Stasiun BTS Saphan Taksin ke Stasiun BTS Mo Chit dengan harga 44 Baht. Langsung disambung dengan bus dalam kota tujuan Terminal Bus Mo Chit (Chatuchak). Dari BTS Mo Chit menuju Terminal Mo Chit biar cepat adalah menyeberang di jembatan penyeberangan dan naik bus dalam kota nomor 3 atau 77 dengan harga sekitar 30 Baht.

Sesampainya di Terminal Mo Chit, alangkah kagetnya saya melihat terminal yang begitu besarnya. Terminal ini memiliki berbagai macam lantai dengan tujuannya yang berbeda-beda. Terminal besar ini memiliki semua bus segala jurusan seputar Asia Tenggara bagian daratan, ke Myanmar, Malaysia, Laos, Vietnam, dan Kamboja pun ada.

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Mumpung di terminal, kami makan dulu, karena belum sarapan. Karena tuntutan adik saya yang harus makan halal, kami hanya bisa mencari yang aman kehalalannya di Seven Eleven dalam terminal. Jujur saja, bagi saya makanan-makanan di Thailand rasanya asin-asem begitu.

Untuk ke Pak Chong, kamu harus ambil bagian Eastern Terminal, yang berarti terminal yang menuju bagian timur kota Bangkok, karena Pak Chong memang berada di timur Bangkok dan searah menuju Laos. Pesanlah tiket bus di loket-loket yang menuju Nakhon Ratchasima, tapi pastikan bus itu berhenti di Pak Chong, karena ada bus yang melewati Pak Chong begitu saja (seperti bus saya *spoiler). Harganya 180 Baht.

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Setelah makan dan naik bus, perjalanan di mulai dengan menempuh waktu sekitar 3 jam melewati tol.

Seperti yang saya bilang tadi, bus saya melewati Pak Chong begitu saja. Daripada tertinggal jauh, kami langsung meminta turun di pinggir tol. Sialnya awak busnya tidak bisa bahasa Inggris, saya hanya bilang "Just stop, please!" dan bus pun berhenti, kami harus berjalan kaki menuju penginapan. Tapi di dalam perjalanan kami, beruntunglah ada warung yang mau memanggilkan kami ojek sampai penginapan.

Bayangkan, WARUNG ADA DI PINGGIR TOL dan ojek bisa melewati tol!

Penginapan

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Pengipanan kami bernama Sport Bars and Resort. Penginapan ini memang sering digunakan oleh wisatawan asing seperti Australia dan Eropa. Penginapan di sini ada barnya, jadi kalau mau ngebir-ngebir tidak usah jalan jauh untuk mencari bar.

Sayangnya di sini pengurusnya gaptek, terutama dengan tulisan bahasa Inggris. Sempat terkendala, tapi cepat terselesaikan ketika pemiliknya menghubungi kami yang sebenarnya sudah memesan penginapan jauh-jauh hari.

Meskipun gaptek dan tidak bisa bahasa Inggris, pengurusnya ramah, terutama Mae (Ibu *terj) Phi Nam Nae, yang asik berbicara dengan saya meskipun harus menggunakan Google Translate. Seru!

Penginapan ini unik, bisa disebut resor ini bergaya taman untuk campground. Tersedia tenda yang bisa diinap. Kami menginap di suatu resor yang bentuknya unik. Segitiga! Tapi dalamnya hanya menggunakan kipas angin.

Tanpa basa-basi, kami cepat tidur agar besok bisa sewa motor pagi-pagi agar bisa menjelajah Khao Yai National Park.

Sewa Motor

Esok harinya kami ke tempat penyewaan motor di pusat kota Pak Chong dengan Tuk Tuk yang dipanggil oleh Mae Phi supaya mempercepat kami ke sana. Bisa di lihat di peta yang saya buat, jaraknya cukup jauh kalau jalan kaki. Maka dari itu kami harus naik Tuk Tuk. Harga Tuk Tuknya 115 Baht.

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Penyewaan motor kami bernama Taweeyon, yang berada persis satu bangunan dengan tempat pembelian motor Yamaha. Tempatnya cukup dekat berapa meter ke arah timur dari terminal bus Pak Chong.

Menyewa motor di sini cukup murah, harganya 300 Baht per harinya dengan deposit paspor yang bisa diambil saat mengembalikan motor. Tapi saat dikembalikan bensin harus diisi penuh, atau dikenakan biaya 150 Baht. Jadi kamu harus hati-hati membawa motornya.

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Untuk jalanan di Thailand kamu tidak usah khawatir, lalu lintasnya sama kok dengan Indonesia. Banyak yang putar balik sembarangan, menyeberang sembarangan, dan menggunakan sisi kiri.

Khao Yai National Park

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Tempat pertama yang kami kunjungi setelah menyewa motor adalah Primo Piazza. Bangunan yang bergaya Eropa ini memang banyak dikunjungi orang-orang. Tempatnya yang instagramable ini selalu ramai terutama di akhir pekan. Harga masuknya adalah 200 Baht per orang, dan mendapatkan voucher minum kopi atau es krim 10 Baht.

Di dalamnya memang banyak kafe-kafe dan jajanan es krim yang harganya lumayan mahal. Untuk menghemat pengeluaran kami makan di luar, dan di dalam Primo Piazza hanya untuk foto-foto saja.

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Usai dari sana kami langsung saja tarik gas menuju taman nasional. Harganya cukup mahal untuk foreigner yakin 400 Baht per orang, sedangkan harga untuk lokal cuma 40 Baht. Dalam hati sebenarnya saya agak kesel sendiri, kenapa tadi nanya harga pakai bahasa Inggris, harusnya diam saja dan mengeluarkan 80 Baht.

FYI, selama saya di Thailand, saya sering sekali dikira orang lokal.

MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Di dalam Taman Nasional Khao Yai ada banyak spot-spot untuk melihat pemandangan. Meskipun memang suasananya hutan, masih banyak warung tersedia terutama di tempat-tempat untuik melihat pemandangan. Walaupun taman nasional ini suasanya hutan, jarang sekali saya mendapatkan jalanan rusak parah, seperti taman nasional yang ada di tanah air.
MENGGEMBEL DI THAILAND 2 (BANGKOK-PAK CHONG PP)

Khao Yai National Park ini sepertinya luasnya lebih dari Pak Chong. Sebab saya berjalan hampir 80km ke dalam, dan itu belum ketemu ujungnya. Kalau dari Google Maps, lokasi taman nasional ini berada di perbatasan Nakhon Ratchasima antara Nakhon Nayok dan Prachin Buri.

Pulang dan balik ke Bangkok


Keesokan harinya setelah check out dari resort, kami mengembalikan motor pagi-pagi pada jam yang sama saat kami mengambil motor agar genap 24 jam. Tidak jauh dari tempat penyewaan motor, cukup berjalan kaki 5 menit, di sana ada terminal bus untuk ke Bangkok. Petugas di sana juga cukup bisa berbahasa Inggris, jadi jangan khawatir.

Dengan harga 146 Baht, kamu bisa menikmati perjalanan 3 jam dari Pak Chong, langsung ke Mo Chit. Sudah mendapatkan minuman dari pihak maskapai bus.

***


Selanjutnya kami di Bangkok cuma sebentar untuk urusan belanja jastip dan melanjutkan perjalanan ke Pattaya. Kami akan skip perjalanan di seputar melakukan jastip dan langsung pada perjalanan Bangkok ke Pattaya. Jadi ditunggu saja ceritanya.

(Bersambung ke: Menggembel di Thailand, Part 3: Pattaya)

Selamat liburan!

01 Juli 2019

MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Lost in Thailand? Hmmm.. awalnya perjalanan ngegembel tingkat ASEAN ini inginnya sendiri. Tapi adik saya, Ara, kemudian menginginkan untuk ikut. Dengan perintah orang tua saya supaya menerima adik saya ikut, ya tak masalah toh jarang jalan-jalan bareng adik sendiri, apa lagi backpackeran ke luar negeri.

Maka berangkatlah kami dengan pesawat terpisah (karena saya sudah memesan tiket pesawat September 2018, dan adik saya Februari 2019) ke Thailand. Saya transit dulu ke Kuala Lumpur (lebih tepatnya hanya di KLIA) selama 4 jam, sedangkan adik saya harus menunggu saya di Don Meuang karena perbedaan tiket ini.

Baca Juga: Transit Lama di KLIA? Enaknya Ngapain Ya?

Singkat cerita, saya sudah bertemu adik saya malam hari di Don Meuang, Bangkok, kemudian kami mengambil simcard Thailand di luar gerbang kedatangan. Kami sebelumnya sudah memesan simcard Thailand melalui aplikasi Klook, dan harganya lebih murah daripada beli langsung di lokasinya. Harga aslinya sekitar Rp137 ribuan, dan dengan Klook kami hanya membayar Rp73 ribu.

Penginapan kami bernama Glur Bangkok, harganya cukup murah di tiket.com, Rp191 ribu dua malam lokasinya berada di Bangrak (Deket Robinson). Supaya sampai ke sana dari Bandara Don Meuang, kami naik Shuttle Bus A2 di depan Gate 7, harganya sekitar 30 Baht per orang untuk sampai ke stasiun BTS Mo Chit.

Informasi Rute Shuttle Bus dari Don Meuang di Bangkok:
A1: Bandara Don Meuang - BTS Mo Chit - Terminal Mo Chit
A2: Bandara Don Meuang - BTS Mo Chit - BTS Saphan Kwai - BTS Ari -BTS Sanam Pao - Victory Monument.

NGEGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Kemudian kami naik BTS seharga 44 Baht dari Mo Chit menuju Saphan Taksin, stasiun yang amat sangat dekat dengan penginapan kami. Kalau mau beli tiket BTS kamu bisa ke loket langsung untuk membeli kartu single tripnya. Jangan sungkan-sungkan bertanya petugas untuk mengetahui lane yang harus kamu ambil.
MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

BTS yang kami gunakan ini harus transit sekali di Siam Station (stasiun BTS yang dekat mall Siam Center), kemudian pindah ke lane Bang Wa.

Glur Bangkok berada di depan Bangrak Bazaar, dekat dengan masjid dan sepertinya kawasan banyak Muslim, jadi cukup aman untuk cari kuliner halal.

Aktivitas Siang Hari di Bangkok


Pagi sekitar jam 7 kami melakukan perjalanan ke Wat Arun, Wat Pho dan Siam Center. Perjalanan ke sana bisa ditempuh dengan perahu menyusuri sungai Chao Phraya dari Dermaga Sathon (beberapa meter dari Saphan Taksin) ke Wat Arun dengan harga sekitar 40 Baht. Harga ini lebih murah daripada harus naik Grab yang harganya 240an Baht!

Sampai Wat Arun, kami harus membayar 50 Baht per orang, dan berfoto-fotolah kami dengan Candi Fajar tersebut. Untuk penjelasan soal apa itu Wat Arun, tidak usah fa-fi-fu yah, karena bisa kamu temukan di internet. Hehehe.


NGEGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Dari Wat Arun kami langsung naik perahu ke Wat Pho dengan harga sekitar 10 Baht untuk menyeberang ke Wat Pho. Tapi harganya lumayan mahal untuk masuk Wat Pho, 200 Baht per orang! Saya putuskan tidak masuk deh, untuk menghemat budget.

Kami pun memutuskan berjalan kaki di sekitar pusat kerajaan Thailand menuju barat untuk melihat-lihat. Lalu melanjutkan perjalanan ke Siam Center dengan Grab untuk mencari barang-barang yang bisa di-jastip-kan.

Siam Center sebenarnya hanyalah salah satu mall di Distrik Pathum Wan, pusat bisnis Bangkok. Di sini banyak produk idaman wanita, Sephora, Victoria's Secret, dan tak jauh dari Siam Center ada Eveandboy yang isinya kebanyakan pengunjung Indonesia.

MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Nah di sini saya bergumam, Ohh ini toh toko yang bikin cewek-cewek Indonesia gila Make-Up Thailand. Ini toh biang keladinya. Jujur saja banyak wanita pecinta make-up garis keras yang minta ini-itu. Tapi kebanyakan cuma maunya doang, pas tahu harganya malah diam. *Misuh*. Untuk urusan jastip, saya serahkan kepada adik perempuan saya yang paham Make-Up.

Sedangkan saya? Saya mengadakan reuni kecil dengan seorang teman yang pernah berkunjung ke Yogyakarta saat saya masih SMA. Namanya Aom. Alangkah terkejutnya Aom saat tahu saya berada di Bangkok, dan berada di Siam Center. Ia saat ini berkuliah di Universitas Chulalongkorn yang jaraknya tidak jauh dari Siam Center. Di jam makan siangnya, saya bertemu dengannya dan bercerita seputar Bangkok, Indonesia, rencana perjalanan saya, pengalaman traveling dan pendidikan yang sedang kami tempuh.

NGEGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Senang bertemu dengan teman lama.

Setelah urusan reuni dan jasa titip selesai, pulang lah kami ke Bangrak melalui BTS. Hingga malam pun tiba.

Malam Hari di Asiatique

MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)
Ara (kanan) bersama Pak Nico dan Istrinya (tengah dan kiri)

Sebelumnya saya sudah sampaikan kalau di dekat stasiun Saphan Taksin ada dermaga perahu. Dermaga ini juga menyediakan transportasi gratis ke Asiatique setelah mentari terbenam. Kami ditemani teman ayah saya yang menjadi dosen di sini, Pak Nico.

FYI, buat kamu yang ingin ke Asiatique murah, gunakanlah BTS hingga stasiun Saphan Taksin. Dan naik perahu gratis dari pelabuhan perahu Sathorn yang hanya berapa langkah dari stasiun BTS.

MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Kami berburu kuliner di sini, dan banyak yang halal. Tidak heran, karena penjual-penjual halalnya keturunan India dan Arab. Tapi yang mengejutkan saya adalah, MEREKA BISA BAHASA INDONESIA! kaget dong. Tidak cuma rumah makan ini saja, beberapa penjual oleh-oleh, dan kosmetik di sini bisa bahasa Indonesia.

Rate harga di Asiatique terbilang murah daripada tempat-tempat perbelanjaan lain. Maka dari itu, buat kalian yang jastip sama saya dan Ara jangan heran kalau dapat harga miring dari jastip-jastip umumnya.

Cuma, untuk wisata seperti wahana-wahana yang ada harganya memang cukup mahal. Seperti bianglala atau rumah hantu harus membayar 200 Baht.

MENGGEMBEL DI THAILAND (BANGKOK)

Hingga larut malam, kami kembali ke penginapan di Bangrak untuk melanjutkan perjalanan esok hari ke Pak Chong. Karena besoknya adalah perjalanan yang paling mendebarkan karena jaraknya jauh.

Sebagai bocoran, Pak Chong adalah kota di Provinsi Nakhon Ratchasima untuk berkunjung ke Taman Nasional Khao Yai.

(Bersambung ke: Menggembel di Thailand, Part 2: Pak Chong)


Selamat jalan-jalan!