13 Februari 2019

MELANKOLIA SENYUM COKLAT MONGGO, JOGJA, DAN PIPI PERMEN SUGUS


Harus saya akui, seperti kebanyakan orang bahwa Jogja adalah kota yang penuh rindu. Makanya tidak heran kalau setiap tahun pasti saya sempatkan diri saya minimal 1 kali untuk ke Jogja untuk melepas rindu dengan atmosfirnya.

Bagi saya, sering traveling ke Jogja adalah hal yang wajib. Apalagi wisata-wisatanya selalu ada yang baru, seolah Jogja tidak kehabisan ceirtanya. Jujur, sebenarnya, alasan lain untuk ke Jogja selain wisatanya adalah bertemu dengan teman-teman SMA yang sering menjadi rekan saya untuk berkelana sekitar Jogja, seperti Farhan, Arya dan teman-teman nongkrong lainnya.

Namun di sisi terdalam di hati, alasan untuk ke Jogja adalah untuk bertemu seseorang yang pernah singgah di hati saya, yang pernah membuat cokelat menjadi makanan kesukaan saya. Tapi sudah lama saya tidak pernah bertemu dengannya di Jogja, mungkin dia sibuk. Sebut saja namanya, Rira.

Oh ya, sebelumnya tulisan ini bukan iklan, atau advertorial. Saya tidak ada maksud untuk mempromosikan barang-barang yang saya sebutkan brandnya di sini. 

Sebenarnya sih rasanya haram bawa-bawa mantan. Tapi berhubung ini suasana valentine, hari penuh perasaan dan coklat, Rira adalah satu-satunya mantan saya yang pernah memberikan saya coklat. Sebenarnya dia tidak hanya saat valentine saja memberikan saya coklat, kadang-kadang ia memberikannya kapanpun sesukanya. Ya, karena kebetulan rumah keluarganya dekat dengan tempat penjual pusat coklat Monggo di Kotagede, jadi wajar dia bisa disebut ratunya coklat. Sampai akhirnya, saya suka dengna coklat Monggo ini walaupun langka di Jakarta.

Rira sebenarnya perantauan juga, sama seperti saya waktu di Jogja. Dia sebenarnya bukan dari Kotagede, melainkan Bontang, Kalimantan Timur. Kotagede adalah tempat neneknya tinggal.

Wanita yang salehah ini, berkulit coklat seperti coklat Monggo, tropis dan manis. Pipinya kalau tersenyum seperti permen Sugus yang bisa kamu temui di warung-warung. Perhatiannya bisa mengalahkan poster "Perhatian!" di tembok. Dan kalau menguntai kata soal perasaannya, seperti untaian lampu tumbler di kafe-kafe syahdu.

Pernah ia membuatkan saya puisi indah yang bahkan beberapa baitnya bisa saya ingat. Pernah juga ia menjadi saingan saya sendiri sewaktu masih mengenyam pendidikan. Tapi yang jelas, coklat Monggo selalu menjadi pemberiannya sebagai apresiasi kepada saya. Di situlah saya merasa dihargai, walaupun seringkali gagal dan kalah dengannya.

Tapi saat kami akan berpisah, dia akan kembali ke Kalimantan pada 2013 untuk mengenyam pendidikan ia menuliskan pesan di blog sosial medianya. Secara tersirat itu ditujukan pada saya.

"Jogja memang kota kenangan. Hatiku akan selalu sepi. Kenanganku telah terukir layaknya relief di kota itu. Kota Jogja. Rapi sekali hingga enggan kuambil. Jadi, kini kuberdiri dengan pedih. Tanpa kenangan. Hanya namanya yang kubawa di angan.


Namun, di sisi lain aku kalut. Lelah harus memikirkannya. Lelah harus menyediakan banyak sisi hatiku untuk merindukannya. Lelah harus selalu sabar karenanya. Juga lelah harus rela luangkan waktuku untuk menunggunya. Kufikir takkan ada satu pun ciptaannya yang berakal enggan menunggu."

Iya. Kami putus karena keegoisan saya padanya yang cukup banyak. Saya tak pernah memberinya coklat.

Sekarang, dia kembali ke Jogja, dan saya di Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Tapi semua sudah tidak lagi sama. Kita tak pernah bertemu kembali. Bahkan, sulit bagi saya untuk mengucapkan maaf secara langsung.

Ia lah yang membuat Jogja terasa sangat spesial bagi saya. Meskipun Sudah 7 tahun yang lalu hubungan kami sudah berakhir, tetap saja ia masih menghantui diri saya. Meski begitu pertemuan kami terakhir 2017 Januari. Rasanya ingin mengatakan maaf saat itu, tapi takut rasanya mengakui kesalahan diri sendiri di masa lalu. Sampai akhirnya, dia seperti hilang ditelan bumi.

Mungkin di dunia paralel, kita masih bersama.