08 Februari 2019

ALASAN PENERBANGAN DOMESTIK LEBIH MAHAL DARI KELUAR NEGERI


Harus saya akui, untuk kegiatan traveling saya memang banyak menggunakan transportasi umum jenis kereta api daripada pesawat. Penyebabnya karena tiket pesawat lebih mahal daripada menggunakan kereta api. Kalau tidak percaya, coba kamu kulik TRAVEL STORIES saya dan koreksi beberapa perjalanannya.

Masalahnya, untuk traveling ke luar Pulau Jawa haruslah menggunakan transportasi umum yang bisa mengarungi samudera, dan kereta api tidak bisa untuk hal itu (mungkin di masa depan bisa). tapi yang ditemukan adalah tiket pesawat tujuan domestik (dalam negeri) lebih mahal daripada keluar negeri (sekitar Asia dan Australia tentunya). Dengan kata lain, lebih ekonomisan gue traveling ke luar negeri dong.

Padahal alam di Indonesia lebih indah daripada harus liburan keluar negeri. Masak harus orang kaya yang menikmati alam negeri sendiri? Terus yang proletar cuma sepah-sepah doang?

Nah, makanya kali ini saya akan kulik penyebab dan alasan tiket keluar negeri lebih murah daripada domestik.

***

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Ini saya dapatkan sumbernya dari media Kompas.com yang mengutip pernyataan Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra. Bahwa menurutnya penerbangan keluar negeri itu tidak ada pembayaran PPN seperti penerbangan domestik.

Perlu kamu ketahui, bahwa PPN ini dikenakan kepada perusahaan yang telah dikukuhkan sebagai PKP (Pengusaha Kena Pajak). Tapi seperti kita beli makanan di restoran cepat saji, perusahaan yang seharusnya bertanggung jawab pada pembayaran pajaknya, tetapi pelanggannya juga yang kena dari transaksi jual-belinya.

Kalau kamu ingin tahu lebih lanjut apa itu PPN, kamu bisa klik link ini.

Demand penerbangan keluar negeri lebih banyak daripada domestik

Masih keterangan dari Ketua Umum INACA, bahwa penyebab penerbangan ke luar negeri lebih murah daripada domestik disebabkan permintaan dan ketersediaan (supply and demand). Banyaknya pesawat tujuan luar negeri yang berbanding lurus dengan jumlah permintaan penerbangan keluar negeri. Singkatnya, frekuensi penerbangan keluar negeri lebih tinggi.

Ini adalah foto penerbangan saya Jakarta-Makassar yang harganya waktu itu sekitar Rp1.7 juta yang setara dengan penerbangan ke Hanoi, Vietnam

Penjabaran secara mudahnya begini. Indonesia itu luas dari Sabang-Merauke yang terdiri dari banyak kota. Sedangkan beberapa kota tersebut belum tentu akan dikunjungi banyak orang karena beda-beda kepentingannya. Paling banyak untuk pesawat domestik biasanya ke Bali, Yogyakarta, Makassar, Medan, dan beberapa kota yang destinasinya populer untuk dikunjungi. Sedangkan kota-kota lain, masih sedikit peminatnya, menyebabkan perusahaan pesawat juga males untuk membuka rute tersebut karena tidak menguntungkan buat bisnis.

Avtur lebih murah di luar negeri

Karena rumitnya infrastruktur di darat, pemasokan bahan bakar minyak (BBM) pasti langka. Itu pasti juga penyebabnya, banyak penjaja bensin eceran kan? dan pasti penjual eceran harganya lebih mahal di pom bensin.

Kasusnya sama dengan pesawat dengan avturnya. Langkanya tempat pengisian avtur di beberapa kota di dalam negeri menyebabkan avtur lebih mahal. Berbeda dengan keluar negeri, apalagi negara-negara tersebut saling berdekatan, pasti harga avturnya normal.

Akibatnya, karena susah didapatkan di kota-kota Indonesia, harganya menjadi mahal.

ASEAN Open Sky

Sumber gambar: Marketeers.com

Nah ini adalah alasan lain yang saya temukan setelah kepo permasalahan harga pesawat domestik. Jadi dilansir di Phinemo.co, kalau penyebab tingginya harga pesawat domestik dikarenakan adanya perjanjian ASEAN Open Sky. Sedangkan ASEAN Open Sky dilansir dari neraca.co.id adalah:

"... Kebijakan liberalisasi angkutan udara yang ditandatangani 10 kepala negara ASEAN pada Bali Concord II yang dideklarasikan KTT ASEAN tahun 2003. Pokok tujuan ASEAN Open Sky adalah untuk membuka wilayah udara antar sesama anggota negara ASEAN" 

Dengan kata lain, pesawat-pesawat dari negara-negara ASEAN lainnya bebas terbang di atas langit Indonesia. Sehingga mengakibatkan perang tarif murah oleh maskapai untuk ke beberapa bandara utama di negara-negara ASEAN (Jakarta, Bali, Bangkok, Kuala Lumpur, Phnom Penh, Hanoi, dll).

Bagi orang Indonesia, memudahkan untuk bisa keluar negeri tanpa harus transit jauh, dan murah untuk keluar negeri.

Sayangnya di Indonesia yang luas ini, hanya terdapat beberapa bandara utama saja yang menjadi bandara utama program ASEAN Open Sky ini. Bandara tersebut adalah Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang/Jakarta), Bandara Kuala Namu (Medan), Bandara Juanda (Surabaya), Bandara Ngurah Rai (Bali), dan Bandara Sultan Hasanuddin (Makassar).

Pembatasan jumlah bandara yang bisa digunakan oleh ASEAN Open Sky ini menyebabkan penerbangan ke daerah-daerah domestik lainnya seperti Sorong, Palembang, Ambon, Kupang, dll jadi harus naik harga. Sebab kebanyakan maskapai untuk bisa sampai di tujuannya harus singgah atau isi avtur lagi (seperti poin sebelumnya) di bandara terdekat dari 5 bandara yang ditetapkan.

Contoh: Ingin ke Kupang, biasanya penerbangan dari Jakarta akan begini, CGK-DPS-KOE. Ingin ke Sorong dari Jakarta akan begini, CGK-UPG-SOQ.

***

Sekarang paham kan, mengapa penerbangan domestik lebih mahal daripada keluar negeri? Makanya share dong biar teman-teman kalian pada tahu, dan lakukan sesuatu biar penerbangan domestik jadi murah.