30 April 2018

7 FILM TRAVELING YANG PERLU KAMU TONTON

Sumber:123RF
Tahukah kamu, bahwa penelitian mengatakan jika seusai menonton film, pola pikir kita akan berubah atau bekerja lebih optimal? Nah, visual-visual yang terasa nyata itulah membuat kita menemukan  referensi atau inspirasi seseorang untuk berkarya dan bertindak sesuatu.

Film yang bertemakan traveling juga banyak kok. Biasanya dengan menonton film traveling, kamu akan terinspirasi untuk mau jalan-jalan lagi, melihat geopolitik dunia, perbedaan budaya antar manusia, bahkan bisa mencintai alam sekitar.

Nah, tanpa basa-basi lagi inilah film yang bertemakan traveling.

1. Into The Wild (2007)


Film yang berdasarkan kisah nyata seorang backpacker yang kabur dari hiruk-pikuk kemegahan keluarga dan sosilita, bernama Christopher McCandless ini, bercerita tentang perjalanannya ke Alaska selama 2 tahun. Selain bercerita tentang perjalanannya, film ini menceritakan latar belakang keluarga dan alasan mengapa Chris melakukan perjalanannya.

Selama perjalanannya, ia bertemu beberapa hipster dan orang-orang beragam yang bersedia mengantarkannya untuk menggapai tujuannya. Chris juga mengajarkan beberapa orang tentang makna hidup sebenarnya dalam kesederhanaan tanpa harus hidup bergelimang harta. Hingga akhirnya, Chris menemui bus yang sudah tak terpakai di Alaska dan menjadikannya tempat tinggal.

Pelajaran berharga lainnya dari Chris adalah, ia memanfaatkan segala sesuatu dengan cekatan dan bertindak kreatif untuk bertahan hidup. Seperti bagaimana membuat peralatan yang penting tanpa harus membelinya, atau makan tanpa harus mahal-mahal belanja segala kebutuhan.


Akhir film ini dikisahkan, bahwa Chris mengalami krisis pangan karena tidak ada rusa untuk diburu di sekitar 'bus ajaib' yang ia tinggai. Hingga akhirnya, Chris berusaha untuk makan dari tumbuhan. Sayangnya, tumbuhan yang ia makan ternyata adalah tumbuhan beracun bernama Hedysarum mackenzii (buncis liar), hingga Chris jatuh sakit dan perlahan-lahan meninggal.

Untuk mendokumentasikan perjalanannya, Chris mencatat perjalanan dan apa saja yang ia lakukan selama pelariannya. Pada saat akhir hayatnya, 2 bulan kemudian jenazah Chris ditemukan oleh seorang pemburu yang tidak sengaja menemukan 'bus ajaib' dan mencium aroma busuk yang ternyata adalah Chris yang sudah meninggal.

Film yang disutradarai Sean Penn dan diproduseri oleh Art Linson, Bill Pohlad, dan Sean Penn sendiri, ini berhasil mendapat respon positif dari kritikus film. Selain itu, film ini juga mendapat untung sebesar $55,635,754.

2. Cast Away (2000)


Seorang pria bernama Chuck Noland, seorang eksekutif muda jasa pengiriman FedEx, harus bernasib sial. Chuck yang diperankan oleh Tom Hanks, mengalami kecelakaan saat berpergian menggunakan pesawat. Syukurnya Chuck berhasil selamat dari kecelakaan tersebut, dan terdampar di suatu pulau asing setelah terombang-ambing di lautan.

Berbagai macam cara oleh Chuck untuk bisa bertahan hidup di pulau tak berpenghuni. Ia juga selalu mencari cara agar meminta pertolongan, atau mencari cara untuk bisa keluar dari tempat terdamparnya.

Film ini hampir semuanya monolog, karena kondisi Chuck yang sendirian untuk bertahan hidup. Dalam monolognya juga ia menceritakan tentang kerinduannya terhadap istrinya, Kelly yang diperankan oleh Helen Hunt.

Walaupun film ini diproduksi oleh Century Fox dan Dreamworks ini memiliki cerita yang keren, film yang disutradarai oleh Robert Zemeckis ini tidak mendapatkan penghargaan sekalipun bahkan dari Oscar.

3. 5 cm (2012)


Diadaptasi dari novel yang berjudul sama, film ini mengisahkan 5 sekawan, Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji). Mereka berdua merayakan kelulusan dengan mendaki kegiatan mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur. Ternyata tidak hanya berlima saja, adik dari Arial, Dinda (Pevita Pearce), ikut dalam ekspedisi mereka.

Dalam kisah ini, dipenuhi drama percintaan rumit dan persahabatan dalam kawanan mereka. Ekspedisi ini dirayakan sebagai acara kelulusan kuliah 5 sahabat tersebut, kecuali Ian yang masih sibuk mengurus skripsinya yang keteteran karena teradiksi oleh game di komputernya.

Sepanjang pendakian, film ini berhasil mengenalkan kepada penontonnya tentang Gunung Semeru, termasuk trek pendakiannya yang dimulai dari Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Arcopodo, Kalimati, dan puncak Mahameru.



Film ini memicu trend di kalangan anak muda untuk berlomba-lomba mendaki gunung. Sayangnya,karena menjadi influence trend naik gunung, menyebabkan banyak pendaki pemula yang norak untuk mendaki gunung.

4. Haji Backpacker (2014)


Tokoh utama bernama Mada (Abimana Aryasatya) yang melakukan kegiatan backpacker untuk  memberontak pada Tuhan yang menyebabkan kematian ibunya, serta kepatah-hatian karena kehilangan seorang dicintainya.

Namun selama perjalanan dalam 9 negara yang dilaluinya, Mada malah menemukan kembali Tuhan melalui beberapa peristiwa yang dialaminya. Hingga akhirnya, kesadaran Mada akan Tuhan yang sebenarnya mencintainya muncul kembali dan membuatnya pergi menuju Mekkah untuk beribadah di sana.

Film ini disutradarai Danial Rifki yang dirilis pada 2 Oktober 2014.

5. 127 Hours (2011)


Berdasarkan kisah nyata seorang pendaki gunung dan petualang bernama Aron Ralston yang diperankan oleh James Franco, yang berpetualang di Canyonlands National Park, Utah. Selama petualangnya, ia sempat bertemu dengan Kristi (Kate Mara) dan Megan (Amber Tamblyn), hingga akhirnya berpisah karena awalnya, Aron hanya menguide mereka agar sampai ke tujuan mereka dan akhirnya berpisah.

Setelah berpisah, Aron mengalami musibah tergelincir jatuh dan tangannya terjepit di batu besar yang sulit dilepaskan. Selama terjebak, Aron terus berusaha berteriak meminta pertolongan, namun Taman Nasional tersebut terlalu besar dan tidak ada yang mendengarnya.


Aron mencari cara bertahan hidup selama terjebak. Karena Canyonlands adalah kawasan tandus dan lama tidak turun hujan, Aron harus menjaga dehidrasinya dengan meminum air seninya sendiri. Hingga akhirnya, Aron memutuskan untuk menggunakan pisau kecil yang dibawa dalam carriernya untuk memotong lengannya sendiri untuk bisa keluar dan melanjutkan perjalanan.

Film yang dirilis secara luas 28 Januari 2011 di Amerika Serikat ini,  mendapatkan respon positif dari kritikus film, dan laris berpenghasilan untung dari film yang disutradarai Danny Boyle ini sebesar USD60,738,797.

6. Everest (2015)


Film biografi (berdasarkan kisah nyata Mei, 1996) yang menceritakan cara pertahanan hidup, petualangan, dan bencana di ekspedisi pendakian gunung tertinggi di planet ini, Everest, yang ditokohi Rob Hall seorang pendaki asal Selandia Baru.
Dalam pendakiannya, Rob masuk dalam kelompok pendakian yang beranggotakan, Yasuko Namba (pendaki Jepang yang ingin mendaki Everest sebagai akhir ekspedisi World 7 Summits), John Krauker (seorang penulis), Doug Hansen (seorang pengantar pos yang sering mendaki Everest tapi tak pernah sampai puncak), Beck Weathers (seoramg miliuner). Rombongan tersebut dalam pendakiannya seringkali terkena masalah teknis hingga akhirnya kebersamaan mereka diuji di saat-saat genting pendakian.

Film ini laris di Indonesia, mengingat banyak peminat pendaki gunung di Indonesia begitu banyak. Sedangkan produksi film yang disutradari oleh Baltasar Komakur ini, mendapatkan keuntungan total USD202,4 Juta. Film ini dirilis tamggal 18 September 2015 di Amerika Serikat dan Inggris.

7. Mr. Bean Holiday (2007)


Film bergenre comedy ini, pastinya sudah kamu tahu tentang Mr Bean yang selalu membuat keonaran. Kali ini Mr Bean yang seperti biasa diperankan oleh Rowling Atkinson mendapatkan undian liburan ke Perancis, dan juga mendapatkan handycam untuk mendokumentasikan liburannya (Mr Bean sudah kenal vlog duluan rupanya).

Tujuan liburan Bean di Perancis adalah kota yang memiliki pantai indah, sekaligus tempat biasa festival film internasional diadakan, Cannes. Selama perjalanannya, Bean selalu bertingkah onar sejak tiba di Bandara Paris-Charlie da Gaulle.

Selain itu, ia juga harus bertanggungjawab menjaga seorang anak bernama Stepan, seorang putra dari Emil Dachevsky (Karel Roden) yang sebenarnya bagian dari acara Festival Film Cannes yang akan diadakan untuk menampilkan film perdana dari Carson Clay (Willem Dafoe). Alasannya gara-gara Bean, menyebabkan dan anaknya berpisah saat di kereta menuju Cannes.

Dalam petualangannya menuju Cannes, Bean dan bertemu dengan seorang aktris bernama Sabine (Emma de Caunes) yang memiliki mobil kodok hijau yang persis seperti punya Bean di London.

24 April 2018

DRAMA PELARIAN DI ATAS PESONA INDONESIA

Judul: Tahta Mahameru
Terbit: 2012
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit: Republika

Buku ini berceritakan tentang Faras seorang wanita asal Ranu Pane, basecamp pendakian Gunung Semeru, Faras berkeliling Indonesia untuk bertemu seorang pria backpacker bernama Ikhsan yang pernah ia temui di Ranu Pane, berdasarkan dari surel-surel yang dikirimkan oleh Ikhsan kepadanya untuk menceritakan lokasi-lokasi kepergiannya.

Alasan mengapa Faras mencari Ikhsan, karena Ikhsan membawa dendam yang mendalam selama perjalanannya. Dendam tersebut disebabkan drama-ala-sinetron keluarganya antara ibu kandung yang meninggal disebabkan tekanan fisik dari ayah kandungnya dan ibu tirinya. Bahkan Ikhsan menghakimi Tuhan dalam dendamnya.

Dalam pencariannya mencari Ikhsan, di Borobudur, Faras bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Mareta. Mareta ikut dengan kepergian Faras hingga ke Sulawesi Selatan, karena Faras mendapatkan tiket pesawat murah. Hingga akhirnya diketahui dalam perjalanannya, bahwa Mareta adalah saudara tiri dari Ikhsan.

Buku ini mengenal pesona keindahan alam, adat dan budaya Indonesia dari tempat-tempat yang telah dituju oleh Ikhsan, Faras, dan Mareta. Tempat-tempat yang dijadikan setting cerita ini adalah Danau Toba, Candi Borobudur, Bantimurung, pantai Bira, dan Gunung Semeru. Perbedaan budaya disini juga ditampakkan.

Pembelajaran budaya dari tempat-tempat tersebut juga disebutkan dalam latar belakang Fikri seorang Bugis, yang pernah menjadi teman dekat Ikhsan untuk mendaki Semeru sebelumnya. Fikri sendiri terlibat dalam kasus Silariang (kawin lari) adiknya yang menikah dengan lelaki yang tidak direstui oleh ayahnya. Atas budaya keras bugis yang dimiliki keluarganya, Fikri harus membunuh suami adiknya dari perintah ayahnya. Peristiwa ini akhirnya mengakibatkan Fikri mati terbunuh ditangan suami adiknya saat berduel. Selain tentang Silariang, juga dikisahkan tentang pembuatan dan filosofi pembuatan kapal Pinisi oleh orang Bugis. Tak hanya budaya Bugis, pengenalan budaya sopan santun adat Jawa tergambar dalam karakter keluarga Faras untuk menyambut Ikhsan yang keras kepala saat pertama kalinya mendaki Semeru.

Hampir setiap pergantian bab buku, pergantian sudut pandang cerita terjadi. Terjadi 3 sudut pandang, antara “Aku-Kamu” dari sudut cerita Faras, “Lo-Gue” dari sudut pandang cerita Mareta, dan “Aku-Kamu” dari sudut pandang cerita Ikhsan.

Sayangnya dalam buku ini, quotesyang sering terucap selalu kata-kata dari Khalil Gibran melulu. Memang karena Faras yang sering menyebutkan quotesdari Khalil Gibran karena kecintaannya terhadap karya-karya Gibran. Namun dalam pengenalan tokohnya, Faras adalah orang yang sering membaca buku, tetapi dengan quotes Khalil Gibran yang sering diucapkan olehnya, seolah buku-buku yang sering dibacanya hanyalah karya-karya Khalil Gibran saja.


Dibandingkan dengan novel 5cm yang berlatarkan tempat yang sama, yaitu Gunung Semeru, novel ini mengisahkan pencarian jalan kembali kepada Tuhan dan kesetiakawanan untuk mencari jalan untuk memendamkan dendam. Sedangkan 5cm, hanyalah menceritakan perjuangan untuk mendaki Semeru, oleh sekelompok mahasiswa yang baru lulus kuliah dan memaksakan kehendak untuk mendaki.


Walaupun begitu, kehadiran novel Tahta Mahameru sendiri seolah hasil dari trend mendaki Gunung Semeru yang sudah diceritakan lebih dulu oleh “5cm” yang terbit di tahun 2005. Karena semenjak kehadiran “5cm”, trend berlomba-lomba mendaki gunung, terutama Semeru.

Buku Tahta Mahameru ini buku yang rilis sebagai juara kedua dalam lomba novel yang diadakan oleh Republika tahun 2011. Juri dari lomba novel ini adalah Salman Aristo dan Asma Nadia. Juara pertama dalam lomba tersebut adalah “Lontara Rindu” karangan S Gegge Mappangewa, dan juara ktiga “Bila Cinta Mencari Cahaya” karya Harri Ass Sidiqie.

10 April 2018

TERDAMPAR DI SURGA KECIL TERSEMBUNYI DI UTARA BANTEN


Hallo guys! Di seling-seling ujian tengah semester ini, lagi-lagi saya pergi keluar dari kepenatan dan kemumetan saya karena ujian yang menyerang kejiwaan saya (UTS semester lalu, saya juga menyempatkan liburan ke Banyuwangi (Baca Artikel: BANYUWANGI, DUNIA LAIN DI SUNRISE OF JAVA) dan Cilember (Baca Artikel: MELANCONG ISENG KE CURUG CILEMBER)). Maka dari itu, saya melakukan backpackeran kembali bersama Backpacker Tangerang ke Pulau Tunda, Serang. Dan ini adalah trip pertama saya sebagai anggota dari Backpacker Tangerang.

Pulau Tunda ini adalah pulau kecil di utara kota Serang. Tempat wisata yang disediakan berupa open trip dari Serang. Namun, kami tidak full open trip, karena kami pergi untuk backpackeran dengan budget seminimal mungkin, dan tidur seada-adanya. Langsung saja...

Awalnya saya bersama rombongan Backpacker Tangerang yang berbasis di Kalideres, kumpul 3 pagi di Pusat Pemerintah Kota Tangerang. Kami berkumpul jam 3, disebabkan salah satu rekan kami, Roi, sudah standby di Puspem (akronim dari Pusat Pemerintah Kota Tangerang) dari pukul 12 malam. Kemudian kami melanjutkan ke Arimbi di Cikokol untuk naik bus ke Serang seharga Rp 25.000.


Sesampainya di Serang, kami turun di Indomaret Patung Serang (dekat Gerbang Tol Serang Timur), dan berkumpul dengan salah satu rekan yang menyusul dari Cikupa, Ma’rifat, seorang penulis blog travel juga (Buka blognya Ma'rifat DI SINI). Dan ternyata, dia lebih sampai duluan daripada kami berenam (Saya, Ojan, Roi, Ana, Dimas dan Kak Tia) yang dari Cikokol.



Di sekitaran Indomaret Patung Serang yang dekat dengan pasar, hanya sarapan beberapa menit saja, sambil membeli logistik seperti sayur-sayuran, telur, tepung dan lain sebagainya. Ojan dan Kak Tia yang membeli logistik-logistik tersebut, untuk kemudian dinikmati saat malam menjelang.

Seusai rehat dan membeli akomodasi, rombongan kecil ini lanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot ke arah dermaga Karangantu untuk menyeberang ke pulau Tunda.


Nah, sesampainya di dermaga Karangantu, dan menaiki perahu penyeberangan dengan harga sekisar Rp35.000 per orangnya, kami menunggu muatan perahu terisi oleh rombongan lainnya. Dermaga ini airnya bersih, meskipun tidak bening, tapi sedikit sekali sampah yang dibuang sembarangan ke lautan. Jujur saja, saya selalu menganggap Serang adalah semrawut dan tidak sebersih di Tangerang (jika dibandingkan dengan Kota Tangerang, Gading Serpong, dan BSD yaaa), tetapi dermaga ini menampar opini saya tentang Serang. Karena saat ke pulau Untung Jawa dari Tangerang, dermaga Tangerang pun kotor dengan sampah berserakan, lebih bersih dermaga Karangantu ternyata.

Langsung saja di pelayaran menuju pulau Tunda. Estimasi pelayaran ini katanya sekitar 2 jam. Saya kurang mengetahui durasinya, karena saya mematikan gawai saya dan tidak bisa melihat jam kerberangkatan dan tiba. Selama pelayaran, Ojan memainkan gitarnya dan bernyanyi bersama rombongan Cikokol ini, dan rombongan lain di atas perahu. Melakukan hiburan bersama orang lain itu penting bagi kami, untuk menjalin sosial dan juga menghibur kegabutan selam 2 jam pelayaran dengan playlist yang random dari Ojan.



Hari sudah siang saat kami berlabuh di pulau Tunda. Kami langsung menuju Homestay Allay, untuk meletakkan barang-barang dan mengganti baju untuk persiapan snorkling di 2 spot sekitar pulau Tunda di hari pertama. Di Homestay Allay, ada warung yang menyediakan beberapa makanan dan minuman, kami beristirahat dan mengisi perut terlebih dahulu untuk snorkling yang menguras energi.

Waktunya snorkling tiba juga, kami menyelam dan berenang melihat-lihat biota laut, koral dan karang-karang yang cantik di dua spot yang jaraknya tidak saling berjauhan. Di sana, kami melihat ikan badut atau yang biasa dibilang ‘Ikan Nemo’ karena diadaptasi dari film Finding Nemo, tidak hanya Nemo bahkan Dory, temannya Nemo, juga banyak ditemukan. Keragaman spesies di dalamnya berwarna-warni. Ikan-ikan di sana ada yang ikan layang, bahkan ikan terbang kecil. Walaupun banyak plankton-plankton kecil yang menggigit dan membuat gatal badan-badan terutama di sekitar perahu, tidak menyurutkan niat kami bermain dengan makhluk-makhluk lucu di dalam air.



Ikan Badut di tempat kami menyelam, seperti biasa selalu berlindung di rambut-rambut kecil Anemon yang selalu menjaganya. Hubungan mutualisme antara Ikan Badut dan Anemon saling menguntungkan. Di saat ada yang menyerang Ikan Badut, ia akan selalu berlindung pada Anemon, hingga pada akhirnya Anemon-lah yang memakan pemangsa itu, sehingga Ikan Badut selamat dan Anemon kenyang. Selain itu, Ikan Badut sering membersihkan Anemon dari kotoran-kotoran seperti sisa makanannya yang merekat pada tentakelnya.


Sudahlah, kebanyakan informasi ilmiah bisa membuat artikel ini tidak menarik dibaca :D.

***

Lanjutnya, kami langsung kembali ke Pulau Tunda untuk bersiap istirahat di penginapan. Tapi tunggu dulu, penginapan kami bukanlah di homestay berbintang 1-5, penginapan kami adalah penginapan semilyar bintang. Kenapa? Karena kami mendirikan tenda di tepi pantai utara pulau Tunda yang sepi dan dilatarbelakangi laut dan hutan kecil.


Beginilah cara kami mengurangi budgetberlebih, kami mendirikan tenda pada sekitar 5 sore di tepi pantai saat surut. Kami mendirikan tenda dengan prediksi jarak air laut dan daratan saat air pasang nanti. Alasan pendirian tenda berada dekat permukaan air karena memang jarak air laut ke rerumputan dan hutan tidak begitu luas, dan kami akan memberikan sinyal cahaya kepada rekan kami yang melaut untuk berburu ikan dengan perahu (walaupun tidak ada yang datang karena rekan-rekan dari Homestay Allay ketiduran). Kami mendirikan dua tenda dan satu terpal di depan tenda untuk antisipasi hujan dan panas ketika siang.



Untuk mengatasi lapar, kami memasak sayur dan lauk yang telah dibeli di pasar. Kami memasak nasi, pancake, sayur kangkung, teri, dan air panas untuk kopi. Persediaan minum kami dari Galon yang kami beli di Homestay Allay dan diantarkan dengan motor yang kami minta untuk mengantarkannya. Karena cuaca yang dingin, kami memasak sangat lama menggunakan kompor kemah dan nastingselama empat jam (dan sudah empat kali permukaan air naik).


Kami bertujuh akhirnya makan bersama secara liwetan di dalam salah satu tenda, karena gerimis ringan. Namun saat kami selesai makan, langit kembali cerah, seolah gerimis tadi menyuruh kami segera makan di dalam tenda.

Malam itu, sebelum kami terlelap, kami membuat api unggun, dan bernyanyi dengan alunan gitar yang dimainkan Ojan, sembari menunggu Allay dan kawan-kawanya membawakan ikan. Namun ternyata Allay tidak datang hingga akhirnya kami tertidur. Saya, Ojan, Dimas, Ana, dan Roi tidur di luar, di bawah bintang-bintang yang muncul kembali setelah awan mendung menutup cantiknya.

***
Pagi harinya, kami mengambil perlatan snorklingdi Homestay Allay untuk Snorkling di laut utara pulau Tunda. Walaupun perahu akan membawa rombongan lain untuk ke sana, kami memilih berjalan kaki untuk berenang dan bersnorkling dari lokasi Tenda.


Perahu yang berisikan rombongan lain tiba di dekat Jembatan Galau yang sangat indah saat sunrise dan sunset. Kami yang jaraknya ratusan meter dari Jembatan Galau, harus berenang ke sana sembari melihat biota laut yang lebih indah dan tak bisa dilihat oleh rombongan lain. Namun sayangnya, Kak Tia yang memiliki action cam lupa membawanya dan tertinggal di dalam tenda. Mengikuti rombongan lain, kami berbaur di lokasi tersebut, di sana juga terdapat batu bertuliskan “Wisata Pulau Tunda Banten” di dasar laut.

Sayang sekali, kami lupa membawa alat pendokumentasian. Padahal di spot tersebut lebih banyak ikan badutnya dan lebih banyak ikan-ikan warna-warni lainnya.

***

Pukul 12 siang, kami akhirnya kembali ke Homestay Allay setelah makan di tempat kemah, dan merapikan barang. Rombongan lainnya telah stand by di perahu menunggu, sedangkan rombongan Backpacker Tangerang yang gembel-gembel ini baru mandi di penginapan Allay dan rehat sembari merokok.


Maka kami melanjutkan perahu untuk kembali ke dermaga Karangantu, Serang. Tetapi sebelum pulang, perahu yang membawa tiga rombongan ini singgah di pulau Empat untuk berswafoto. Pulau ini dipenuhi gazebo-gazebo yang seharusnya dinikmati saat sore untuk makan-makan dan menikmati senja sembari mengopi, karena ada kafe dan warung makan yang saat kami tiba di siang yang belum buka.

Tidak berlama-lama, akhirnya kami kembali ke perahu untuk pulang ke dermaga Karangantu, Serang, untuk kembali ke rumah masing-masing.

01 April 2018

ANGKARA BUWANA

Monumen Lindu Gedhe di Prambanan.
Sumber: brilio.net

Mengingat kenyataan yang menyeramkan 12 tahun yang lalu itu, membuat Johan, nama panggilan dari Aloysius Johan Chandra Putra, hanya bisa terduduk merenung terduduk pada kursi kelas kuliahnya di Universitas Multimedia Nusantara. Ia sebenarnya tak mau mengingat kembali peristiwa yang ia alami semasa kecilnya itu. Bahkan sedikit goncangan saja, bisa membuatnya panik.

Ia tidak mau lagi melihat gerombolan orang panik keluar rumah dan menyaksikan mayat-mayat berjatuhan. Baginya berlama-lama di tanah lapang adalah kondisi terbaik, dari segala malapetaka dari reruntuhan bangunan yang goyah mengancam nyawa dengan jatuh secara babi buta.

***

Minggu itu, 27 Mei 2006. Hari Minggu itu, bukanlah Minggu yang ceria bagi Johan, seorang anak kecil yang duduk di kelas 4 SD. Minggu itu, seharusnya adalah hari orang-orang berkumpul dan bergembira bersama keluarga ke tempat berlibur menyenangkan di Klaten. Atau mungkin sekedar menghabiskan akhir pekan di tanah lapang perkampungan, bermain gobak sodor atau petak umpet bersama teman-teman.

Johan lahir di Klaten, tanggal 23 Februari 1998. Semenjak lahir, ia dititipkan orangtuanya kepada Kakek dan Neneknya yang berada di Klaten juga. Alasan orangtuanya menitipkan sederhana, demi keamanan dan keselamatan Johan. Karena orangtua Johan sebenarnya tinggal di Jakarta yang sedang panas-panasnya oleh krisis moneter, dan kerusuhan rasial yang membara di mana-mana.

Tapi pagi itu, tak ada lagi petak umpet dan gobak sodor bagi Johan.

***

Seperti biasa, pada pukul 5 pagi, Mbok, panggilan Johan untuk neneknya, sedang menyiapkan sarapan. Sedangkan Mbah, panggilan Johan untuk kakeknya, sedang menyeruput kopi di teras rumah, dirindangi pohon mangga, di atas kursi bambu yang ia buat sendiri.

Rumah yang berdiri sederhana di dukuh Ngantenan, desa Canan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten itu kemudian, terasa aneh. Bumi bergunjang-ganjing, lampu gantung di ruang tamu bergoyang-goyang. Ternyata gempa berkekuatan besar membuat panik seisi rumah. Mbah lari ke depan halaman, Mbok berlari membangunkan Johan yang masih lelap dalam tidurnya.

Le, tangi le! (Nak, bangun nak)

Johan terbangun dari tidurnya, ia dibangunkan oleh Mbok.

Gempa le! Gek tangi, mlayu, metu o!(Gempa, nak! Cepat bangun, keluarlah!)Seru neneknya, di pagi itu. Bersama Mbok, Johan berlari tunggang-langgang ke halaman mengikuti Mbah.

Sesampai di depan halaman, Johan dan Mbokyang panik ketakutan karena bumi yang berguncang, masuk ke dalam pelukan Mbah. Mbah seperti berusaha melindungi mereka, walaupun sebenarnya juga sama-sama dalam ambang ketakutan.

Di dalam pelukannya, Johan melihat rumah yang ia tumpangi sedari lahir rubuh. Tak lagi kokoh seusai digoyangkan alam. Kemudian diikuti oleh rumah tetangga-tetangga sekitarnya yang sudah berhamburan, rumah-rumah mereka rubuh secara hampir bersamaan. Hingga kemudian, semua yang berdiri gagahnya di pinggir jalan desa Ngantenan itu, rata dengan tanah.

Allahu Akbar!

Laa Ilaha Illallah!”

“Tuhan Yesus!”

“Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu...”

Semua berhamburan, menyerukan nama dan berdoa kepada Tuhannya. Selain itu juga, diiringi suara teriakan ramai untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang terkasihnya. Walaupun satu-satu jatuh korban, hingga akhirnya korban yang berjatuhan sebanyak 335 jiwa di kecamatan Wedi.

Di halaman yang luas, Johan, Mbokdan Mbah, hanya bisa diam saling berpelukkan, dan hanya menyaksikan keadaan yang tiba-tiba yang tak biasa karena guncangan dahsyat berkekuatan 6,3 skala richter menurut lembaga BMG yang kemudian telah melebur menjadi BMKG itu.

Tiba-tiba ada yang berteriak dengan spontan dari hiruk-pikuk warga yang panik.

Ayo! gek munggah nang gunung! Ono Tsunami!! (Ayo! Cepat naik ke gunung! Ada Tsunami!)” Ujar seorang yang katanya mendapatkan informasi bahwa gempa tersebut berisiko tsunami.

Teriakan tersebut membuat warga Ngantenan dan sekitarnya, yang berada di kecamatan Wedi terbirit-birit. Semua mengeluarkan kendaraannya yang bisa digunakan. Mobil dan motor yang selamat dari reruntuhan, bahkan sepeda keluar dari parkirannya untuk menaiki dataran tinggi. Semua mengevakuasi diri.

Sialnya, kabar Tsunami itu bohong. Seorang kakek-kakek mengetahui berita kebenaran Tsunami yang ternyata tidak ada itu dari radionya. Warga Ngantenan geram, dan kesal karena informasi asal telan oleh warga lain yang tak sempat mengecek kebenaran informasi tersebut.

***

Johan sudah lupa bagaimana rasa pedih yang diterima pada tragedi itu. Jelasnya, Ia tak mau lagi mengingat kejadian dahsyat yang merusak lingkungan masa kecilnya, dan beberapa orang terdekat seperti tetangganya yang sudah tiada akibat bencana tersebut.

Jelasnya, pihak gereja datang memberikan bantuan kepada keluarga dan penduduk yang beragama Nasrani. Mereka memberikan sumbangan dengan bentuk dana serta, tenaga untuk membangun desa kembali dari kehancuran.

"Setidaknya, aku aman sekarang di Jakarta," syukurnya saat diwawancara.

***
Rumah Dome di Prambanan.
Sumber: akutj.id


Saat ini, kejadian tersebut diabadikan dalam bentuk monumen, bernama Monumen Lindu Gedhe yang berlokasi di Prambanan. Diresmikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang gunanya, sebagai aktivitas penyegiaan terhadap bencana sekaligus mengenang bencana besar 12 tahun lalu yang membekas di penduduk yang terkena bencana tersebut.

Dikutip dari infolokasi.com, lokasi tersebut sering dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara untuk berswafoto.

Selain itu juga, terdapat pemukiman rumah Dome atau yang biasa disebut rumah Teletubies. Pemukiman tersebut berguna sebagai model pemukiman yang tahan gempa, pasca terjadinya gempa yang berpusat di Bantul tersebut. Saya sebelumnya pernah berkunjung ke sana pada 2010.

Keharmonisan terjalin di pemukiman rumah Dome, dan gotong-royong yang tinggi pada masyarkatnya, seperti kerja bakti, dan lain sebagainya. Selain itu, pemukiman ini juga terdapat fasilitas sosial seperti puskesmas, mushola dan toilet bersama, semua ini didapatkan bantuan dari lembaga Domes For The World.

Seperti, Monumen Lindu Gedhe, tempat ini juga dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Pemukiman yang unik berebentuk seperti rumah serial televisi anak-anak itu, menjadi objek wisata dan pembelajaran geologi juga untuk dikunjungi. Lokasinya berada di Kelurahan Sumberharjo, kecamatan Prambanan, kemudian diresmikan pada 2008 sebagai simbol pengingat bencana tersebut.